"Peristiwa dadakan yang kadang membuat kita terbebas dari segalanya, atawa benar-benar membuat kita merdeka adalah lupa." Kata teman disebelah saya tanpa memandang saya sedang apa.
Tak disangka dan tak menyangka, perkataan teman saya itu membuat saya tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suara saya, dan sayapun langsung nyletuk dengan nada keras tapi ndak ngeden "loh, kok iso jeh?".
"Lupa itu sebenarnya enak. Ketika kita lupa secara tidak sadar kita terbebas dari segalanya. Dengan lupa sebenarnya kita juga bisa bahagia." Kali ini dia teruskan dengan nada ceramahnya.
Walhasil karena sedikit terpaksa dan dibuat kikuk olehnya, saya dituntut oleh rasa penasaran saya, saya putuskan untuk menjadi penampung penjelasan teman saya itu.
Saya perhatikan terus gerak bibir teman saya. "Untuk lupa tak memerlukan belajar yang lama, tak memerlukan sampai kita sarjana dan tua. Pokoknya sebenarnya lupa itu enak, se enak kau kencing dari bangun tidurmu di pagi hari."
E lhadala, mulai sok puitis dia. "Kau tau teman, penghambat lupa itu adakalanya adalah jam, henpon, dan tanggalan. Kita dibantu mereka untuk tidak bisa menjadi lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara. Sialan."
Ku lihat terus dan kuperhatikan mimik wajah temanku itu. Ternyata di mimik wajahnya mulai ada rasa kecewa dan putus asa. Dengan sedikit pelan tak tergesa-gesa dia berucap "Tapi, lupa itu kapan, kapan dan kapan-kapan. Memang, Kerap kapan dan kapan-kapan menjadi teman yang menyakitkan."
Akhirnya ku coba berusaha menghibur dan mengajaknya tertawa, "sabar nak, jalanmu masih panjang." Modyar.~
No comments:
Post a Comment