Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.Ditambah teman saya yang juga belum tidur membuat saya semakin mengurungkan niat untuk tidur.Seiring bergantinya hari saya lihat teman saya yang santai duduk di teras kamar.
Kulihat teman saya terdiam. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang melamun. Merenung. Berfikir. Entah apa yang dia fikirkan, kelihatan dari posisi duduk dan pandangannya.
Dia memandang kedepan, tapi bukan kedepan. Kedepan yang lebih jauh kedepan lagi, atau malah melihat kebelakang. Belakang yang sudah pernah terjadi dan dia rasakan. Sedikitpun tak berani saya untuk menegurnya.Ekspresi gelisahpun mulai dia tampilkan. Ditambah lagi saya yang merasa sendirian kuberanikan diri untuk menanyainya, "kowe nyapo gak turu-turu". Dia pun diam, hanya membalas dengan senyuman.
Kutanya lagi padanya, "urung ngantuk kowe?". Akhirnyapun dia membalas, "kadang saya berfikir, saya itu suka dengan malam. Suka dengan situasinya. Hening, sepi, dan sunyi. Di sepinya malam ini saya bisa berfikir untuk menilai hidup saya sendiri," jawab dia dengan pandangannya yang terus menghadap ke depan.
Mulailah dia banyak bicara, dan parahnya lagi situasinya bagai seorang murid dan guru privatnya, dan yang pasti saya berposisi sebagai muridnya. "saya suka dengan malam itu sebab di malam hari sepi, orang-orang sudah pada istirahat, dan lebih pentingnya dimalam hari tak banyak orang munafik. Polusi-polusi kemunafikan sudah tidak memenuhi lingkungan saya. Di malam hari tak banyak orang-orang yang berbohong berkeliaran. Mereka sudah lelah, dan beristirahat dari apa yang mereka kerjakan di siang hari."
Saat itu pula spontan saya menjadi pendengar yang budiman tanpa ikut berkomentar.
Ambyar. Walhasil saya ikut merenung bersamanya~