25 January 2019

Pendengar Budiman

Hace langsung nylethuk, "susah cuk, aku di kira selingkuh sama tetanggaku". Sayapun ndak pati respon. Mbesengut. Mrengut. Dingin, datar. Si temanku satunya Haikal Fikri ini langsung merespon, "nyapo ce?, sopo seng ngira kowe selingkuh?". Balas Hace "kekasihku lah!". Bajigur tenan!, teman saya Hace ini ternyata lagi mencurahkan hatinya. Sambat. Dari ini mereka mulai serius ngobrol.

"Masak dikira aku selingkuh sama tetanggaku seng kinyis-kinyis kui", jelas Hace. Dan Haikalpun langsung merespon, "lha mak jawap kepriye?". "ya langsung tak sauri, Ga mungkin lah. Wong saya beda keyakinan sama tetanggaku itu". Haikal pun seketika mbesengut "Keyakinan kepriye?". "ya beda cuk, aku yakin kalo aku suka sama tetanggaku kui, tapi tetanggaku tidak", lontar Hace.

"njur kekasihmu piye?".

"ya, aku langsung dijiwiti, tapi jiwit mesra", jelas Hace sambil mesam-mesem. "Dia tetep ngeyel, katanya aku tetep berhubungan sama dia". Sampai sini saya tetap menjadi pendengar setia. Sebab saya berusaha menjadi pendengar yang budian, dari pada tukang komentar yang klejingan.

Si Haikal terus mengejar dengan banyak pertanyaan "terus responmu gimana? Kekasihmu tetep nesu? ". Dengan santai ala kebiasaannya, Hacepun menjelaskan, "tak jawab, Seharusnya ya kamu seneng, bangga. Aku disukai gadis cantik seperti dia, sekinyis-kinyis kaya dia. Dari pada aku di sukai celeng, sama kirik. Kamu rela po tak poligami sama kirik?".

Edan, seketika saya kemekel bagai orang yang menikmati guyonan pelawak Bagiyo dan teman-temannya.

Haikalpun langsung meneng. Diam. Hidungnya mimisan~