10 June 2020

Mencari Sinar Cahaya

Bulan sudah tak terlihat indah lagi. Bahkan sempat hilang tertindih lampu-lampu kota dan cahaya kendaraan. Hanya kegelapan yang mampu membantu untuk melihat dan meknikmati keanggunannya.

Kunang-kunang yang diyakini berasal dari kuku orang mati kini sudah jarang terlihat lagi. Apakah mereka pergi, ataukah mereka menyadari bahwa orang-orang sudah tak mempedulikan lagi. Atau mungkin orang-orang sudah tak bisa menikmati keindahannya lagi.

Sorak renyah anak-anak bermain sekejap hilang dan tak berarti. Tertelan oleh alat canggih yang dikiranya begitu bernilai. Hingga tak bisa membedakan mana kemesraan dan mana kecurigaan. Mana bersua dan mana saling menjauhkan.

Keadaan seperti ini sebenarnya adalah momen yang tepat untuk berlatih dan menemukan diri sendiri. Kesepian merupakan situasi untuk membantu menemukan siapa diri kita sebenarnya. Begitu pula kegelapan, juga merupakan keadaan yang mendukung untuk mencari cahaya yang didambakan.

Untuk itu, kesalahan bukan suatu hal yang perlu di benci dan dimusuhi. Akan tetapi sebisa mungkin juga harus dihindari. Dengan kesalahan kita bisa mengerti kebaikan. Dengan kesalahan kita bisa belajar untuk merubah diri menjadi lebih baik lagi.

Alangkah baiknya kita selalu berfikir bahwa diri kita ini adalah makhluk yang lalai dan dholim. Sehingga kita kerap memohon ampun dan menyadari bahwa kita memerlukan petunjuk menuju jalan yang baik dan lurus. Begitupun jika kita sebaliknya, sombong dan merasa baik dari segalanya justru menjerumuskan kita ke keburukan yang luar biasa. 'subhanaka inni kuntu minaddholimin'.

Maka dari itu gunakan momen seperti ini untuk mencari cahaya-cahaya yang sulit ditemukan. Semakin gelap semakin banyak bintang-bintang yang terlihat serta semakin mudah mendapatkan sinar cahayanya. Semakin merasa bersalah, semakin dekat kita dengaNya.


07 June 2020

Awal Hubungan


Penyesalan pun terjadi ketika mereka berdua selesai menggapai puncak setelah melakukan hubungan yang tak baik menurut orang-orang. "Andai hal yang tidak kita inginkan terjadi, apa yang harus kita lakukan?". Tanya si lelaki memecah keheningan.

"Kamu harus tanggung jawab!". Sahut perempuan yang bisa dikatakan memiliki tubuh yang didambakan kebanyakan orang. Dengan nada sedikit ragu dan santai dia terlihat ketakutan.

Awal mereka melakukan adegan tersebut adalah ketika dari salah satu pihak memiliki kehancuran perasaan yang luar biasa. Bermula komentar di status whatsapp yang hanya sederhana kemudian lama-kelamaan menjadi serius dan tidak sederhana.

Dapat dikatakan mereka berdua sudah saling kenal lama. Hanya perkara kontak dan gengsi yang membuat mereka tak saling sapa. Tidak tahu kenapa kok mereka berdua sudah saling menyimpan kontak. Hingga saling lempar komentar statuspun terjalin lancar dan begitu saja.

Mungkin mereka merasa cocok dan senasib dari apa yang mereka rasakan. Bagai tumbu bertemu tutupnya. Saling tukar pengalamanpun serasa tak terhalang. "Aduh. Perempuan selalu membingungkan...." komentar si laki. "lelaki selalu membunuh perlahan-lahan", balas si perempuan.

"kayak'e perasaanmu lagi ndak karuan?". Tanya si laki ke perempuan tersebut.

Walhasil, saling curhatpun terlaksana. Pertama mereka hanya curhat hal-hal yang sepele ternyata cur-cur yang lainnya. "Aku butuh sandaran untuk melampiaskan perasaanku ini". Sambat si perempuan. Entah kenapa, memang naluri seorang laki-laki atau memang sulit untuk menahan hawa nafsunya si lakipun meng iyakan dan memberi kesempatan lebar untuknya.

Tanya si laki, "ada tempat untuk kita berdua?" dengan model memancing tanpa memperjelas maksudnya. Begitupun si perempuan, pasti sudah tau apa yang dimaksudkan.

Tak dapat dihindari merekapun berada di tempat yang diharapkan.

Dari karep mereka berdua pasti kalian sudah mengerti. Kalian dapat membayangkan dan berimajinasi sesuka kalian. Entah apa yang kalian bayangkan tentang mereka berdua itu terserah dan kehendak kalian. Kalian juga bisa kembali lagi mengingat ke cerita awal.

Selesai melakukan hal yang mereka niatkan dari awal, sambil bersantai si perempuanpun berkata, "Biarlah ini menjadi puisi yang indah dalam kehidupan kita, semakin orang-orang tidak mengetahuinya semakin indah pula puisi kita".

Sang lakipun spontan teringat ucapan gurunya dan berkata, "rasane ra sepiro karo sorone". Mereka diam. Anteng. Tak ada suara, tak ada hal yang dilakukan. Suasana jadi hening, sehening malam. Entah apa yang difikirkan[]


Masalah



Hai, antum semua! Punya kabar apa hari ini? Tentu punya kabar baik. Paling tidak kita anggap baik-baik. Bukankah Kalau ada problem yang memusingkan, kita sudah terlatih untuk guyon dan cekikikan. Dan bukankah juga kita sejak kecil sudah diajari untuk berbohong, dan selalu menyalahkan kodok bila kita sedang terjatuh. Entah itu berbohong kepada orang lain atau diri kita, demi menghibur diri sendiri.

Bagaimana rasanya hidup saat ini? Makan apa hari ini? Atau mungkin makan siapa hari ini? Lebih gampang atau makin susah? Sudahkah antum menyaur utang? Yang sudah punya anak, bagai mana kabarnya? Ajaklah anak-anak antum berbicara sesering mungkin, sebab kalau mereka besar kelak keadaan tidak semakin gampang.

Semakin lama semakin banyak masalah, seperti semakin banyak alat kedokteran berkembang maju semakin maju pula model-model penyakit. Apakah itu kesengajaan atau ketidak sengajaan? Atau itu tamparan-tamparan Tuhan kepada akal pikiran kita. Tuhan berkata: 'Apakah tak kau pikirkan beribu-ribu ayat-Ku? Apakah tak kau gunakan akalmu untuk membangun kekhalifahanmu di bumi?'.

Berpuluh, bahkan beratus kali Tuhan 'menampar' akal pikiran kita. Setiap orang bertarung melawan masalah. Tuhan tak mengodratkan masalah-masalah itu, diserahkan kembali kepada-Nya[]