14 December 2021

Membuang Diam-Diam Merupakan Mencuri

 


Setipis apa pun, tentu ada perbedaan yang serius antara pemahaman seseorang dengan orang lainnya. Hal ini tak dapat dipisahkan, sebab alasan yang mendasar yakni  "kullu ro'sin ro'yun" yang setiap kepala memiliki pendapat atau pemikiran yang berbeda-beda.

Saya pikir mencuri hanyalah perbuatan mengambil sesuatu tanpa sepengetahuan siapapun. Ternyata ada orang lain yang memiliki gagasan bahwa mencuri tidaklah hanya sekedar itu.

Hal tersebut saya dengar ketika ada orang yang mengobrol syahdu dengan teman disebelahnya. Entah dari apa awal yang mereka bahas, kok sepertinya mereka asyik membahas orang yang suka membuang sampah sembarangan. Seketika telinga saya langsung nyaut saat orang itu mengatakan "Membuang sampah kok ndelik-ndelik, itu podo wae dengan nyolong".

Weh, lhadala.. Kok iya ya. Saya pikir mencuri itu hanya mengambil, ternyata membuang juga merupakan mencuri. Akan tetapi bukan membuang-nya yang dikatakan mencuri, yakni yang dilakukan dengan 'diam-diamnya' itu.

Menurut pendengaran saya, orang tersebut mengatakan seperti itu karena seringnya melihat orang yang membuang sampah di sungai saat yang lain lengah. Misal dilakukan di malam hari, tanpa sepengetahuan orang lain.

Mungkin memang benar membuang sampah sembarangan secara diam-diam merukapan mencuri, yakni mencuri kesempatan agar dia bisa membuang sampah dengan se-enaknya. Dan kita juga perlu menghargai bila orang lain berpendapat seperti itu. Karena orang itu juga memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Bila tak mampu membuang sampah pada tempatnya. Maka makan dan minumlah beserta kemasannya. ~

15 April 2021

Ke mana, Ce?


SAYA PUNYA seorang teman, ndak bisa di sebut dekat, tetapi juga ndak bisa disebut jauh. Hasyim namanya, Hace julukannya. Parahnya sampai sekarang saya ndak ngerti apa alasan dia di juluki Hace.

Dia salah satu teman karib saya sejak mulai awal kuliah. Dia tergolong kawan saya yang menyenangkan, sebab ndak disangka dan tak dapat menyangka terkadang dia punya cerita segudang yang membuat saya selalu tertawa hingga kaku perut saya.

Tanpa saya sadari ketika saya bersama dengannya dan bertukar cerita, lupalah hutang-hutang saya. Walaupun hanya sesaat dan pada akhirnya teringat lagi hutang saya. Sempat saya saat tertawa dengannya seketika diam, meneng, anteng, hening, dan batin saya berkata "ternyata bahagia dan tertawa adalah salah satu kekayaan yang tiada bandingannya".  

Semenjak masih di lingkungan perkuliahan saya sering bertemu dangannya di kelas, kantin, dan kos saya. Hampir tak pernah absen dia saat ada jeda jam perkuliahan selalu istirahat di kos saya. Terkadang saya menyuruhnya untuk istirahat di kos sendiri tanpa saya. 

Saat istirahat bersama di kos dan jam perkuliahan selanjutnya hampir mulai, ternyata dia sudah macak rapi, dan saya pun belum siap-siap untuk berangkat. "ke mana, Ce?" Tanya saya berbasa-basi kepada Hace setiap kali dia sudah terlihat rapi. 

Hace selalu menjawab dengan jawaban yang singkat dan lugas. "BIASA TO, LE.." 

Adegan tersebut sudah terjadi entah berapa kali. Dan saya cuma bisa cengengesan sambil bangkit dari tempat tidur untuk bergegas menyiapkan diri. Padahal demi Tuhan, jika diingat, dulu itu saya ndak ngerti apa yang di maksud dengan "biasa" dari jawabannya. Padahal kadang kita mampir ke angkringan, mampir dulu ke kantin, atau sebat di depan kelas. Dan itu pekerjaan yang ndak mesti dan ndak biasa. Hedeuh~

09 April 2021

Rejeki

Banyak orang yang mengatakan, bahwa rejeki itu sudah diatur dan ditakar oleh Tuhan. Apapun bentuk dan banyaknya pokoknya sudah diatur oleh Tuhan. Akan tetapi kita juga ndak boleh seenaknya menjagakan. Kita harus berikhtiyar mencari dan menjemput rejeki tersebut. Karena kewajiban kita tidak hanya berdoa, tetapi juga harus berusaha. 

Rejeki itu bisa berarti apapun yang kita dapat dari Tuhan. Walaupun datangnya dari orang lalin, akan sebenarnya tetap dari Tuhan, hanya jalannya melalui perantara orang lain tersebut. Dan juga Tuhan memberikan rejeki kepada kita secara cuma-cuma, tanpa meminta imbalan dari kita. 

Bayangkan, bila Tuhan kelak menagih atau meminta ganti atas rejeki yang dikaruniakan-Nya kepada kita?!. Wah, yang pasti ndak mampu kita. Kita bisa bernafas menghirup udara, bisa berkedip beberapa kali pula, dan masih banyak lagi rejeki-rejeki lainnya. Bila kelak kita harus membayar, berapa banyak harga yang harus kita kasihkan kepada Tuhan kita?!. lak yo ndak mampu to kita?. Kita bisa tersenyum dan tertawa, bisa berkumpul dengan keluarga. Itu semua adalah rejeki dari Tuhan yang dikaruniakan kepada kita.

Sebenarnya hanya satu kuncinya, itupun menurut saya, bila kalian mempunyai pendapat lain ya silahkan. Selalu bersyukur dalah kuncinya. Karena dengan bersyukur kita dapat menerima apapun yang kita punya, walau sedikit jumlahnya. Sehingga kita bisa menyadari bahwa Tuhan selalu memberi rijki kepada kita. 


Dan alhamdulillah, saya masih diberi rejeki bisa tertawa sambil ngopi dan rokok'an atas 6 LPG saya yang hilang. Jangan membatasi rejeki hanya dengan materi~

05 April 2021

Puasa dan Perubahan

 


Inilah hari, seindah-indah hari. Tak dikira dan tak dinyangka sudah hijra dari hari kehari dan sebentar lagi puasa. 

Berpuasa merupakan suatu peristiwa yang bisa digolongkan rahasia dan sulit untuk diketahui. Seseorang hanya bisa menebak, bahwa mereka benar-benar puasa atau tidak, sebab yang diketahuinya hanyalah gejala-gejalanya saja. Mulai dari bibir pecah-pecah, tenggoroan kering, hingga haus dalam. 

Begitupun banyak sekali perubah-perubahan yang terjadi, entah itu dari tayangan tipi yang biasanya jam tiga pagi tak ada menjadi ada, dan bahkan berubah menjadi islami semua. Yang semula masjid dan mushola serasa kuburan selepas digunakan untuk jamaah, kini kebak dengan suara-suara indah tadarusan yang saling bersautan. Beberapa lagu yang biasanya bisa membuat lupa pun kalah, dengan suara ngaji yang menggema. 

Puasa juga suatu kedewasaan. Jika anak kecil itu memiliki sifat yang masih alami, yaitu ketika ingin kencing, e ek, dan makan, mereka akan segera langsung mengeluarkan dan tidak mampu menahan kapan waktunya kencing, kapan waktunya bisa makan. Berbeda dengan orang yang dewasa, mereka mampu menahan kapan bisa kencing, e ek dan makan. Jadi mereka yang belum mampu menahan dirinya dan memaksa selalu menuruti semua keinginannya, malah tidak semakin dewasa mereka.

Bukan hanya daya konsumsi yang malah semakin meningkat, Tak kalah lagi adalah begitu meningkatnya kealay an kaum pemuda hingga yang tua-tua, mulai dari status dan foto-foto yang aduhai bajigurnya. 

Ya Alloh tabahkan hambamu ini dari godaan yang menggoda, kalau tidak menggoda namanya bukan godaan ya Alloh.

18 January 2021

Sekolah


Menjadi pendengar memang lebih asik dari pada ikut berkomentar tetapi tidak mengerti apa permasalahannya. Apa lagi diwarung atau tempat nongkrong orang-orang yang lebih tua dari kita. Momen seperti ini yang perlu kita nikmati, disini kita bisa mendapat informasi yang tidak kita dapat dari media online apapun.

Kebanyakan sekarang orang-orang lebih aktif ikut berkomentar agar terlihat bijak dan pandai, walaupun tidak benar-benar mengerti apa yang mereka ketahui. Akan tetapi, asik tidak asiknya itu memang tergantung hati dan perasaan orang yang menjalaninya.

Bukan niatan saya untuk menguping apa yang diomongkan seseorang, tetapi apa yang diomongkan oleh orang di sebelah saya membuat diri saya tidak berkonsentrasi untuk menikmati kopi dan hembusan asap rokok yang saya hisap.

Entah apa awal mula yang mereka omongkan itu tetiba fikiran saya langsung buyar ketika ada yang bilang "kalau pengen ijazah ya sekolah, kalau pengen ilmu yang banyak ya belajar, njur belajar kui ndak harus di sekolah..." Eh lhadala, ternyata spontan dalam hati saya kok ikut membenarkannya.

Tidak sedikit banyak orang yang menyekolahkan anaknya hanya untuk mendapatkan ijazah. Kemudian untuk bekal mendaftar pekerjaan. Bukankah sekolah atau pendidikan itu bertujuan untuk mencerdaskan manusia sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Entah itu masalah pribadi atau masalah dilingkungannya. Tapi ya bukan berarti orang yang sudah sekolah itu langsung bisa menyelesaikan masalahnya secara spontan. Tidak sedikit yang gagal lalu belajar dari kegagalannya.

Parahnya lagi bila seseorang yang sudah tinggi sekolahnya dianggap mereka serba bisa. Baik dari hal apapun atau perilakunya. Tak jarang juga ada yang mengatakan "wong ya sekolah wis duwur, kelakuane kok ra mbeneh babar blas.." Malah ada juga, "Lha mosok sekolahnya sarjana ndak ngerti timbangan..." emang kebangeten sih bila ndak ngerti masalah timbangan. Tapi ya ndak semua jenis timbangan mereka bisa dong. Ah, sampean ini.. Bisa pecah ini kepala bila harus bisa dalam semua hal.

Perlu diketahui bahwasannya ada beberapa faktor yang merubah sifat atau kecerdasan seseorang, tidak dari sekolahan saja, Bisa dari keluarga, lingkungan, kemudian terahir juga dari dirinya sendiri. Jadi ya ketika menyekolahkan anaknya jangan sokor pasrah bongkok an saja. Berharap nanti anaknya serba bisa. Bantu mereka, juga bimbing mereka.

Tetiba fikiran saya dibuat pecah lagi oleh orang yang lagi nikmat ngobrol tersebut, "Jarang-jarang lo kita gumbul dan ngobrol asyik seperti ini, wong saat pengajian rutinan saja kita ndak pernah awor, lha kepriye, wong aku ndak pernah hadir sampean ya ndak pernah hadir..." Modyaaarrr~