Showing posts with label Tak Berkategori. Show all posts
Showing posts with label Tak Berkategori. Show all posts

18 January 2021

Sekolah


Menjadi pendengar memang lebih asik dari pada ikut berkomentar tetapi tidak mengerti apa permasalahannya. Apa lagi diwarung atau tempat nongkrong orang-orang yang lebih tua dari kita. Momen seperti ini yang perlu kita nikmati, disini kita bisa mendapat informasi yang tidak kita dapat dari media online apapun.

Kebanyakan sekarang orang-orang lebih aktif ikut berkomentar agar terlihat bijak dan pandai, walaupun tidak benar-benar mengerti apa yang mereka ketahui. Akan tetapi, asik tidak asiknya itu memang tergantung hati dan perasaan orang yang menjalaninya.

Bukan niatan saya untuk menguping apa yang diomongkan seseorang, tetapi apa yang diomongkan oleh orang di sebelah saya membuat diri saya tidak berkonsentrasi untuk menikmati kopi dan hembusan asap rokok yang saya hisap.

Entah apa awal mula yang mereka omongkan itu tetiba fikiran saya langsung buyar ketika ada yang bilang "kalau pengen ijazah ya sekolah, kalau pengen ilmu yang banyak ya belajar, njur belajar kui ndak harus di sekolah..." Eh lhadala, ternyata spontan dalam hati saya kok ikut membenarkannya.

Tidak sedikit banyak orang yang menyekolahkan anaknya hanya untuk mendapatkan ijazah. Kemudian untuk bekal mendaftar pekerjaan. Bukankah sekolah atau pendidikan itu bertujuan untuk mencerdaskan manusia sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Entah itu masalah pribadi atau masalah dilingkungannya. Tapi ya bukan berarti orang yang sudah sekolah itu langsung bisa menyelesaikan masalahnya secara spontan. Tidak sedikit yang gagal lalu belajar dari kegagalannya.

Parahnya lagi bila seseorang yang sudah tinggi sekolahnya dianggap mereka serba bisa. Baik dari hal apapun atau perilakunya. Tak jarang juga ada yang mengatakan "wong ya sekolah wis duwur, kelakuane kok ra mbeneh babar blas.." Malah ada juga, "Lha mosok sekolahnya sarjana ndak ngerti timbangan..." emang kebangeten sih bila ndak ngerti masalah timbangan. Tapi ya ndak semua jenis timbangan mereka bisa dong. Ah, sampean ini.. Bisa pecah ini kepala bila harus bisa dalam semua hal.

Perlu diketahui bahwasannya ada beberapa faktor yang merubah sifat atau kecerdasan seseorang, tidak dari sekolahan saja, Bisa dari keluarga, lingkungan, kemudian terahir juga dari dirinya sendiri. Jadi ya ketika menyekolahkan anaknya jangan sokor pasrah bongkok an saja. Berharap nanti anaknya serba bisa. Bantu mereka, juga bimbing mereka.

Tetiba fikiran saya dibuat pecah lagi oleh orang yang lagi nikmat ngobrol tersebut, "Jarang-jarang lo kita gumbul dan ngobrol asyik seperti ini, wong saat pengajian rutinan saja kita ndak pernah awor, lha kepriye, wong aku ndak pernah hadir sampean ya ndak pernah hadir..." Modyaaarrr~


09 November 2020

Fitnah Bekerja


Memang hidup itu tidak bisa di paus dan dipotong bagian mana yang ingin kamu hilangkan. Nyatanya terus berjalan dan mengalir sesuai apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.

Pernah ada cerita Abu Nawas yang difitnah oleh seseorang, tetapi sang Abu Nawas malah memaafkan seseorang tersebut. Abu Nawas juga memerintahkan kepada orang tersebut untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi apa-apa kepada dirinya.

Seseorang tersebut mendatangi Abu Nawas dan meminta maaf kepadanya. Abu Nawas malah memintanya lekas pergi dan menyuruhnya untuk mengnggap tidak pernah terjadi apa-apa. Akan tetapi seseorang tersebut tetap kokoh agar Abu Nawas memaafkannya. Dan akhirnya Abu Nawas memberi dua sarat. Bertanyalah seorang tersebut apa sarat pertama, "Ambil bantal, lekas koyak dan keluarkan isi yang ada di dalamnya" perintah Abu Nawas.

Setelah isi bantal sudah di koyaknya, kemudian seseorang tersebut bertanya, "Apa syarat kedua?". "Masukkan kembali isi bantal tetsebut", perintah selanjutnya dari Abu Nawas. Diambil dan dimasukkannya lagi isi bantal yang sudah dikoyaknya. Semakin lama memasukkannya ternyata semakin banyak pula isi bantal yang tidak bisa dimasukkan.

"Begitulah kerja fitnah", jelas Abu nawas, "seberapa banyak kau minta maaf dan seberapa banyak pula aku memaafkanmu, Kau tidak akan mampu mengembalikan muru'ah seseorang yang telah kau fitnah seperti sediakala".

Muru'ah adalah kepribadian atau akhlak yang dimiliki manusia untuk menjaga agar ia tidak hina. Perlahan, tapi terasa, kerja fitnah tak memerlukan pisau atau pedang yang tajam untuk menyakitinya~


29 October 2020

Bertambah Jumlah Usiamu


Hidup itu bukan seperti kamu saat mendengarkan MP3, bisa di pause atau play seperti yang kamu inginkan sesuka hati. Tetapi lebih mirip seperti layanan musik streaming yang terus berputar. Tidak bisa kamu tentukan seenaknya, baik saat ramai ataupun sekaligus sepi.

Seiring terus berjalannya hidupmu, tidak melulu soal bahagia. Bagaimanapun itu kamu harus terus berjalan bersama nasib baik atau buruk. Hadapi dengan hati yang tabah dan kokoh, yakin bahwa Tuhanmu akan membalas dan mengganti semuanya.

Dengan bertambah atau dapat dibilang berkurangnya usiamu, jadikan apa yang sudah terjadi dan kamu alami sebagai bekal hidupmu untuk terus berjalan. Dari pengalaman dapat menjadikanmu sebagai seseorang yang lebih dewasa. Karena dengan bertambahnya usia belum pasti juga bertambah kedewasaan seseorang. Pengalamanlah yang dapat membimbing seseorang untuk bertambah dewasa.

Tetaplah berjalan, nikmati dan rasakan. Terus berusaha dan berbuat baik kepada orang disekitarmu serta berdoa kepada Tuhanmu. Sebab hanya tuhanmu yang tau kapan berakhirnya usiamu.

Kamu, hari ini, dan hidupmu.


14 September 2020

Teh Hangat


"Koyo cah gereng bae we pesen teh anget"

Sebatang rokok saya nyalakan. Hisapan dan kepulan asap pertama yang saya hembuskan mengawali pembicaraan saya.

"Kowe ndak ngerti po? Sakki zamannya dimana kita berkecenderungan menjawab apa pun dan mengomentari apa pun tanpa ngerti kenyataan".

Teman karib saya diam. Meneng. Anteng sembari menunggu teh hangat pesanannya.

Saya lanjutnkan, "Selalu ada dua hal yang saling bertolak belakang dalam diri manusia, kebaikan dan keburukan. Orang yang dicap jahat tidak selamanya jahat, begitupun sebaliknya".

Tetap anteng dengan posisinya. Kali ini diiringi satu sruputan teh hangat yang sudah ada di depannya.

"Mengapa saat ini kekejaman manusia sering melebihi batas. Bahkan sebagian dari manusia kemudian begitu mudah menghukum manusia lainnya?".

Tanpa melihat responnya saya melanjutkan, "Tujuan eksis acap kali lebih kita agungkan ketimbang bertulus kepada hati sendiri bahwa kita tak ahli dalam bidang apapun".

Terus saya lanjutkan, "Kita tinggal pilih, Tuhan memberi kita ujian, teguran, atau cobaan. Jika kita memilih cobaan bersyukurlah, sebab kita yang dicoba, bukan menjadi alat untuk mencoba".

Sambil membayar teh hangatnya dia berucap, "semoga apa yang kamu katakan tidak membatasi apa yang akan kamu lakukan.."

Dia pulang.

Saya diam.

10 June 2020

Mencari Sinar Cahaya

Bulan sudah tak terlihat indah lagi. Bahkan sempat hilang tertindih lampu-lampu kota dan cahaya kendaraan. Hanya kegelapan yang mampu membantu untuk melihat dan meknikmati keanggunannya.

Kunang-kunang yang diyakini berasal dari kuku orang mati kini sudah jarang terlihat lagi. Apakah mereka pergi, ataukah mereka menyadari bahwa orang-orang sudah tak mempedulikan lagi. Atau mungkin orang-orang sudah tak bisa menikmati keindahannya lagi.

Sorak renyah anak-anak bermain sekejap hilang dan tak berarti. Tertelan oleh alat canggih yang dikiranya begitu bernilai. Hingga tak bisa membedakan mana kemesraan dan mana kecurigaan. Mana bersua dan mana saling menjauhkan.

Keadaan seperti ini sebenarnya adalah momen yang tepat untuk berlatih dan menemukan diri sendiri. Kesepian merupakan situasi untuk membantu menemukan siapa diri kita sebenarnya. Begitu pula kegelapan, juga merupakan keadaan yang mendukung untuk mencari cahaya yang didambakan.

Untuk itu, kesalahan bukan suatu hal yang perlu di benci dan dimusuhi. Akan tetapi sebisa mungkin juga harus dihindari. Dengan kesalahan kita bisa mengerti kebaikan. Dengan kesalahan kita bisa belajar untuk merubah diri menjadi lebih baik lagi.

Alangkah baiknya kita selalu berfikir bahwa diri kita ini adalah makhluk yang lalai dan dholim. Sehingga kita kerap memohon ampun dan menyadari bahwa kita memerlukan petunjuk menuju jalan yang baik dan lurus. Begitupun jika kita sebaliknya, sombong dan merasa baik dari segalanya justru menjerumuskan kita ke keburukan yang luar biasa. 'subhanaka inni kuntu minaddholimin'.

Maka dari itu gunakan momen seperti ini untuk mencari cahaya-cahaya yang sulit ditemukan. Semakin gelap semakin banyak bintang-bintang yang terlihat serta semakin mudah mendapatkan sinar cahayanya. Semakin merasa bersalah, semakin dekat kita dengaNya.


07 June 2020

Awal Hubungan


Penyesalan pun terjadi ketika mereka berdua selesai menggapai puncak setelah melakukan hubungan yang tak baik menurut orang-orang. "Andai hal yang tidak kita inginkan terjadi, apa yang harus kita lakukan?". Tanya si lelaki memecah keheningan.

"Kamu harus tanggung jawab!". Sahut perempuan yang bisa dikatakan memiliki tubuh yang didambakan kebanyakan orang. Dengan nada sedikit ragu dan santai dia terlihat ketakutan.

Awal mereka melakukan adegan tersebut adalah ketika dari salah satu pihak memiliki kehancuran perasaan yang luar biasa. Bermula komentar di status whatsapp yang hanya sederhana kemudian lama-kelamaan menjadi serius dan tidak sederhana.

Dapat dikatakan mereka berdua sudah saling kenal lama. Hanya perkara kontak dan gengsi yang membuat mereka tak saling sapa. Tidak tahu kenapa kok mereka berdua sudah saling menyimpan kontak. Hingga saling lempar komentar statuspun terjalin lancar dan begitu saja.

Mungkin mereka merasa cocok dan senasib dari apa yang mereka rasakan. Bagai tumbu bertemu tutupnya. Saling tukar pengalamanpun serasa tak terhalang. "Aduh. Perempuan selalu membingungkan...." komentar si laki. "lelaki selalu membunuh perlahan-lahan", balas si perempuan.

"kayak'e perasaanmu lagi ndak karuan?". Tanya si laki ke perempuan tersebut.

Walhasil, saling curhatpun terlaksana. Pertama mereka hanya curhat hal-hal yang sepele ternyata cur-cur yang lainnya. "Aku butuh sandaran untuk melampiaskan perasaanku ini". Sambat si perempuan. Entah kenapa, memang naluri seorang laki-laki atau memang sulit untuk menahan hawa nafsunya si lakipun meng iyakan dan memberi kesempatan lebar untuknya.

Tanya si laki, "ada tempat untuk kita berdua?" dengan model memancing tanpa memperjelas maksudnya. Begitupun si perempuan, pasti sudah tau apa yang dimaksudkan.

Tak dapat dihindari merekapun berada di tempat yang diharapkan.

Dari karep mereka berdua pasti kalian sudah mengerti. Kalian dapat membayangkan dan berimajinasi sesuka kalian. Entah apa yang kalian bayangkan tentang mereka berdua itu terserah dan kehendak kalian. Kalian juga bisa kembali lagi mengingat ke cerita awal.

Selesai melakukan hal yang mereka niatkan dari awal, sambil bersantai si perempuanpun berkata, "Biarlah ini menjadi puisi yang indah dalam kehidupan kita, semakin orang-orang tidak mengetahuinya semakin indah pula puisi kita".

Sang lakipun spontan teringat ucapan gurunya dan berkata, "rasane ra sepiro karo sorone". Mereka diam. Anteng. Tak ada suara, tak ada hal yang dilakukan. Suasana jadi hening, sehening malam. Entah apa yang difikirkan[]


Masalah



Hai, antum semua! Punya kabar apa hari ini? Tentu punya kabar baik. Paling tidak kita anggap baik-baik. Bukankah Kalau ada problem yang memusingkan, kita sudah terlatih untuk guyon dan cekikikan. Dan bukankah juga kita sejak kecil sudah diajari untuk berbohong, dan selalu menyalahkan kodok bila kita sedang terjatuh. Entah itu berbohong kepada orang lain atau diri kita, demi menghibur diri sendiri.

Bagaimana rasanya hidup saat ini? Makan apa hari ini? Atau mungkin makan siapa hari ini? Lebih gampang atau makin susah? Sudahkah antum menyaur utang? Yang sudah punya anak, bagai mana kabarnya? Ajaklah anak-anak antum berbicara sesering mungkin, sebab kalau mereka besar kelak keadaan tidak semakin gampang.

Semakin lama semakin banyak masalah, seperti semakin banyak alat kedokteran berkembang maju semakin maju pula model-model penyakit. Apakah itu kesengajaan atau ketidak sengajaan? Atau itu tamparan-tamparan Tuhan kepada akal pikiran kita. Tuhan berkata: 'Apakah tak kau pikirkan beribu-ribu ayat-Ku? Apakah tak kau gunakan akalmu untuk membangun kekhalifahanmu di bumi?'.

Berpuluh, bahkan beratus kali Tuhan 'menampar' akal pikiran kita. Setiap orang bertarung melawan masalah. Tuhan tak mengodratkan masalah-masalah itu, diserahkan kembali kepada-Nya[]

17 May 2020

Benar-benar yatim atawa diyatimkan?


Akhir-akhir ini sebagai bangsa, kita merindukan sesuatu yang harmonis dan menenangkan. Orang-orang amat sibuk oleh kerja, gengsi serta derita. Tak pernah berkesempatan untuk mencari siapa sebenarnya dirinya. Sehingga lupa akan sebagian hartanya untuk siapa. Ada juga yang sampai lupa keluarga, bahkan anaknya.

Di dunia ini, Allah memuliakan beberapa hamba-hambanya dengan menakdirkan sebagai anak-anak yatim. Setiap muslim wajib menyantuni anak-anak yatim, baru kemudian orang-orang miskin. Itulah tanda-tanda kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada anak-anak yatim.

Akan tetapi, adapaun di dunia yang dikatakan maju dan modern ini sebagian pekerjaan penting manusia-manusia malah meyatimkan anak-anaknya. Mereka sibuk bekerja hingga menjadikan anak-anak mereka teryatimkan. Kapan saja anak-anak yang tidak memperoleh perhatian, cinta kasih, dan santunan dari orang tuanya, pada waktu-waktu itu dia menjadi yatim.

Kalau bapaknya sibuk rapat, ibunya sibuk arisan, kalian bisa lihat setiap jam berapa anak yang diyatimkan. Kemudian dari anak-anak yang diyatimkan tersebut lantas mencari orang tuanya di dunia abstrak. Mereka mencari dimana mereka tak tahu harus mencari kemana. Sehingga ada yang dijalanan, tidak tau batas baik dan buruk, dan parahnya membuat mereka tidak bisa menghargai sesama manusia.

Betapa melimpahnya anak-anak yatim di sekitar kalian. Entah benar-benar yatim atawa diyatimkan. Jika bisa kalian bantu, maka bantulah. Jika bisa kalian santuni, maka santunilah. Jika kalian ingin ikut merasakan keyatimannya, maka rasakanlah. Tapi setidaknya ber-dzikir-lah untuk mengingat mereka.


10 May 2020

Berita


Dizaman sekarang ini yang penuh permusuhan dan perfitnahan, kita harus kendalikan ucapan, perbuatan serta pikiran. Kita sedang berada dizaman yang terlalu nyaman, tapi bagai berjalan ancik-ancik ri. Waspadalah, waspadalah, waspadalah!.

Media-media selalu memberitakan yang belum tentu benar. Banyak bumbu-bumbu serta lauk-pauk yang bermacam dicampurkan ke berita agar menarik dan mendapat sanjungan pelanggan. Sehingga timbulah fitnah, permusuhan serta perpecahan dan saling menjatuhkan.

Disini internet memang bagus untuk membantu berkomunikasi dan penyebaran berita , tapi sangat buruk untuk pembangunan mental manusia. Maka dari itu kita harus mampu mendidik untuk mengendalika  diri.

Ingat, saat kita membuat berita untuk melemahkan sama dengan menendang untuk menjatuhkan, dan saat itu pula kita dalam posisi berdiri dengan satu kaki. Dengan itu malah kita memiliki banyak kesempatan untuk dijatuhkan.

Walhasil, cara jitu dan ampuh untuk menghadapi keadaan saat ini ialah dengan seperti ekspresi pada gambar!. Tenang. Santai. Kendalikan keadaan. Tinggalkan kehidupan yang ruwet dan rumit. Serta jangan lupa, ajak untuk tertawa. Jadikan semua yang membuat bingung itu menjadi kenikmatan.

Walaupun terkesan sulit karna setiap sifat seseorang berbeda, tapi saya yakin, kita pasti bisa.~


04 May 2020

Wanita Karir


Ketika nabi Muhammad ditanya, kepada siapa harus berbakti, pertama nabi menjawab, Ibu, kemudan nabi menjawab lagi Ibu, sampai ke tiga kalinya, kemudian baru seorang ayah.

Dari hadis yang sudah pernah dijelaskan, kita semua tau betapa Islam menjunjung tinggi dan sangat memuliakan kaum wanita, wabil khusus Ibu. Nabi menjelaskan bahwa derajat Ibu itu tiga tingkat di atas derajat ayah bagi anaknya.

Diluar sana tak sedikit kaum wanita yang memperjuangkan, bahkan merebutkan bak Kartini bercelana Jeans, yang artinya punya semangt tinggi, tak seperti Kartini yang ipit-ipit, susah melangkahkan kaki karena memakai kain sempit untuk menjadi seorang yang berkarir. Ingin memiliki pekerjaan yang tetap. Berusaha untuk bekerja ditempat kerja yang agraris. Berseragam.  Pergi kekantor, kemudian pulang dari kantor. Dan tak lupa gaji yang tetap.

Saya tidak tau jika yang menjadi patokan disebutnya wanita berkarir adalah kaya dan memiliki kemandirian ekonomi, seorang Ibu rumah tangga itu tergolong wanita berkarir atau hanya sekedar Ibu rumah tangga saja. Disamping hanya di rumah, kesehariannya kadang ya di sawah, ya mepe gabah, napeni hawok-hawok, ya ke pasar, ya mencuci pakaian sang bapak dan anak, ya bersih-bersih rumah, ya kadang ikut PKK, ya memasak, ya beranak.

Dan tidak luput ketinggalan ya memenuhi kebutuhan psikologis sang bapak.~


29 April 2020

Bahagia dan menderita


Kita hidup itu bergelombang, terus bergerak, terus berjalan, terus berubah-ubah. Ndak mesti. Ganti-ganti. Kadang di olok-olok, kadang pula ikut terseret meng-olok-olok. Kadang disakiti, kadang pula terbawa arus untuk membalas menyakiti, kita harus sadar itu.

Jika kata Emha, tugas kita itu mencari keburukan diri-sendiri, dan mencari kebaikan orang lain. Saya setuju. Sebab hal tersebut dapat melatih kita untuk rendah hati. Dalam ajaran jawa pula diperingatkan bahwa kita harus 'ojo rumongso biso, biso o rumongso'. Kita ndak boleh keminter, bahkan minteri lainnya.

Hidup sekarang itu ndak mudah. Kita berbuat baik sekalipun dicap tidak indah. Kita harus serba hati-hati, sebab orang sekarang ndak bisa diajak bercanda. Pokoknya serius dan serius. Padahal kalau kita terlalu serius kasihan nanti tetangga kita.

Mbok ya, kita latihan, mengubah tragedi menjadi komedi. Walaupun kita sedih juga harus bungah. Kita tahu sendirikan?!, dilingkungan kita, orang banyak utang ya tetap ngopi guya-guyu sambil rokok-an. Orang tak ber-uang juga tetep nikah, bahkan kredit motor sekalian, belum lunas cicilan istrinya sudah hamil dulun. Tak ada yang bisa menandingi orang-orang seperti dilingkungan kita itu. Pokoknya kita harus berusaha dan terus berusaha. Tuhan pasti mencukupinya.

Yakinlah, Tuhan menciptakan kesedihanmu itu juga untuk kebahagiaanmu. Siapa tahu Tuhan menaikkan pangkat derajatmu disisiNya. Bagi orang Jawapun, bahagia dan menangis itu melebur menjadi satu. Mereka bahagia tapi ya mengeluarkan air mata. Indah bukan? ~


27 March 2020

Melupakan Kehilangan



Kelakar teman saya secara tetiba, "padahal kenalnya cuma sebentar, tapi lupanya kok lama?". Waini, dentuman apa lagi yang akan dia hujamkan.

Mengawali percakapan, seperti biasa dia ndak ndayani ketika berbicara. Diiringi dengan pola langkahnya yang seirama. Karna yang pasti saat berjalan, kaki yang satu dengan lainnya memang bergantian. Kalau secara bersamaan itu melompat: melompat juga ada yang memakai langkah.

"Aku kok ndak habis fikir to jeh, ketika berusaha melupakannya kok malah aku mengingatnya. Parahnya lagi, ketika aku kehilangan kok malah dianya terasa semakin dekat." Lhadala, lak da'ik tenan.

Semakin jauh dia melangkahkan kakinya, semakin cepat pula yang diucapkannya. Untungnya kok hanya beberapa poin saja yang dapat saya fahami. Jika banyak, pasti tak satu katapun yang saya tanggapi. Sebab ketika dia berkata suaranya pelan, tapi masih terdengar. Tersaing bunyi kenalpot motor lewat yang sekarang tambah makin sangar.

Sebelum tiba di tempat yang kami tuju, yang pasti saya perlu menyiapkan beberapa tanggapan yang sedikit terpaksa harus saya sampaikan kepadanya. Karena jika tidak, pasti dikira saya njegidhek meneng tak memperdulikannya. Ya ndak apa walau sedikit, itung-itung sebagai pencitraan. Biar dikira saya teman yang benar-benar berperan sebagai teman.

Saya sudah menyiapkan amunisi yang akan saya hunjamkan ke dia. Yakni berupa tanggapan tentang melupakan dan menghilang.
Perlu dia fahami, bahwa melupakan itu merupakan salah suatu pekerjaan mengingat. Untuk melupakan, dia harus mengingatnya. Walhasil, semakin kamu melupakan semakin pula kamu mengingatnya. Berbeda jika dia lupa. Lupa itu peristiwa yg ujug-ujug. Lupa itu terjadi dengan sendirinya. Dia pasti tak bisa melakukan pekerjaan melupakan agar dia lupa. Yang ada malah dia mengingatnya.

Segendang sepenarian dengan menghilang. Saya diajari oleh kehidupan bahwa perbuatan menghilangkan adalah suatu bentuk kehadiran yang justru lebih terasa. Kehilangan adalah wujud dari kehadiran. Semakin saya merasa kehilangan semakin terasa pula kehadirannya.

"Kok meneng bae jeh!". Makdheg. saya baru sadar ternyata sudah sampai di tempat yang kami tuju. Seketika itu saya juga sadar ternyata saya terlalu lama menyiapkan amunisi untuknya. Walhasil, ndak tersampaikanlah apa yang akan saya hunjamkan ke dia. Ndak apa, biarlah angan ini berkliaran di fikiran saya. Dia pasti juga diajarkan oleh kehidupannya.~

21 March 2020

Hanya bermain di tepi sungai



"Bila hidup yang kujalani tiap hari diibaratkan sebagai sungai, aliranku sedang tidak lancar, bahkan buntu di beberapa tempat. Airnya mengeluarkan bau busuk yang menyesakkan napas. Aku sering ingin melompat ke ruang waktu yang lain, tak peduli ke masa depan atau masa lalu, yang penting bukan saat ini. Aku sangat bosan dengan hidupku. Aku mendambakan ruang dan waktu yang lebih nyaman, tenang, dan tentram. Lepas dari kejaran beban."

Seperti yang disampaikan Rani Rachmani Moediarta lewat novelnya, bahwa sampai saat ini banyak orang yang mengibaratkan hidupnya seperti sungai, hanya mengikuti arus, bagai sepotong gabus terapung-apung tak berdaya dibawa arus sungai.

Hingga tak jarang mereka merasakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya terasa berat dan membingungkan, merasa terombang-ambing tanpa keputusan dalam drama yang dibuatnya sendiri. Pada ahirnya mereka akan mencoba melawan arus, dan mereka akan merasakan lelah yang begitu luar biasa, sebab sungai kehidupan itu bukan hanya berarus deras melainkan juga tanpa muara, tiada ujungnya sampai hidup kita selesai.

Padahal bila kehidupan ini memang seperti sungai, mestinya kita bisa bermain-main saja di tepinya, cukup di pinggir mengamati arusnya, dan bukan sengaja mencemplungkan diri ke deras arusnya. Setidaknya, cukuplah mencelupkan kaki ke dalam airnya untuk menguji suhu dan memperkirakan kedalamannya. Bisa pula melukiskan pemandangan disana, berkaca pada permukaannya, atau merenanginya. Tidak harus menjadi sepotong gabus atau kembang sungainya, Hingga ahirnya kita tak lagi merasakan beban hidup yang begitu luarbiasa.

23 December 2019

S1



"He cuk!, anakmu wes pira?". Sambil ngudhek kopi, tanya orang di sebelah saya kepada temannya. Sepertinya mereka merupakan teman karib lama yang sudah tidak saling bertemu dan bercumbu.

Suasana di warung memang tak seperti di kantor kerja yang isinya serius terus -walau kadang ada yang gak serius blas-, yang jika di terapkan di lingkungan rumah membuat kasihan tetangga kita. Walhasil saya malah tertarik menjadi pendengar budiman diantara mereka.

Merekapun mulai saling tanya jawab dan bersautan. Bagai bunyi burung prenjak sawah yang tek... tekk... Cerrrrr... Piceek... Piceeekk... "Anakku wes 2 jeh.." jawab temannya yang sama ngopinya.

"Sama cuk, anakku ya wes 2". Cletuk orang di sebelah saya ini. "Anakku itu lo, kok aneh aneh to, yang terahir ini dia sering bingung, sering lupa, kadang ya mengkhayal". Lanjut dia sambil menuangkan kopinya di lepek.

"Menghayal kepiye makaudmu jeh?". Tanya temannya penasaran.

"Lha mosok jik 2 tahun wes muni, 'pak aku wes lulus sarjana, ndek wingi tas wisuda!' ". Ya tak iyani wae musuh aku, malah tak lem "wah, hebat le. Teruss??". Asiknya mereka disambung nyruput kopi.

"Lha terus, bocahe jawap apa?". Tanya temannya tadi.

Agak terbatuk si orang dekat saya ini langsung nyeltuk, "ndilalah kok bocahe langsung ganti tanya nng aku to jeh, 'terus ngeneki aku kudu ngapain pak?' ".

Modyarrr..., seketika anteng semua. Sayapun hampir sesak napas.~

02 December 2019

Sunyi,



Sebagian dari kalian pasti menyadari bahwa semakin lama keadaan di sekeliling kalian semakin sepi. Sepi yang bukan berarti sepi, tetapi sepi karena perasaan sendiri. Semakin berkurang teman yang sejalan dengan pikiran kalian. Satu persatu memisahkan diri. Parahnya lagi kadang mereka muncul saat kita tidak memerluknnya lagi.

Sebenarnya hidup ini sederhana, kita dapat berbahagia dengan cara kita sendiri. Dengan spontan tertawa, mengingat pengalaman kita, bahkan dengan menertawakan diri kita. Atau mungkin bila semua itu tetap tak bisa membuat bahagia, bisa juga secara sedikit terpaksa sebagian dari kalian harus menikah dengan lawan jenis. Dan ini juga ndak menjamin kebahagiaan kaliaan. Tergantung bagaimana mengelola hidup kalian.

Dengan keadaan sesepi itu, suatu saat kalian pasti ingin menangis. Menangis yang keras, yang bukan berarti tetangga sebelah kalian bisa tertanggu oleh tangisan kalian. Tetapi tangisan yang sunyi, hanya hati serta tuhan yang menyadari.

Akankah dengan keadaan seperti itu membuat kalian mandeg jegreg, atau malah mengembara di dalam pikiran dan batin kalian? Padahal yang perlu kalian renungkan bukan masalah sunyi atau sepinya keadaan kalian. Tetapi kesetiaan pada tuhan kalian. Kuatkah selama hidup kalian hanya bercinta dengan-Nya dan berpuasa dari yang lain-Nya?


Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung
Dalam kepalaku
(JokPin, doa malam)

03 October 2019

Malam tenang

Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.

Ditambah teman saya yang juga belum tidur membuat saya semakin mengurungkan niat untuk tidur.Seiring bergantinya hari saya lihat teman saya yang santai duduk di teras kamar.

Kulihat teman saya terdiam. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang melamun. Merenung. Berfikir. Entah apa yang dia fikirkan, kelihatan dari posisi duduk dan pandangannya.

Dia memandang kedepan, tapi bukan kedepan. Kedepan yang lebih jauh kedepan lagi, atau malah melihat kebelakang. Belakang yang sudah pernah terjadi dan dia rasakan. Sedikitpun tak berani saya untuk menegurnya.Ekspresi gelisahpun mulai dia tampilkan. Ditambah lagi saya yang merasa sendirian kuberanikan diri untuk menanyainya, "kowe nyapo gak turu-turu". Dia pun diam, hanya membalas dengan senyuman.

Kutanya lagi padanya, "urung ngantuk kowe?". Akhirnyapun dia membalas, "kadang saya berfikir, saya itu suka dengan malam. Suka dengan situasinya. Hening, sepi, dan sunyi. Di sepinya malam ini saya bisa berfikir untuk menilai hidup saya sendiri," jawab dia dengan pandangannya yang terus menghadap ke depan.

Mulailah dia banyak bicara, dan parahnya lagi situasinya bagai seorang murid dan guru privatnya, dan yang pasti saya berposisi sebagai muridnya. "saya suka dengan malam itu sebab di malam hari sepi, orang-orang sudah pada istirahat, dan lebih pentingnya dimalam hari tak banyak orang munafik. Polusi-polusi kemunafikan sudah tidak memenuhi lingkungan saya. Di malam hari tak banyak orang-orang yang berbohong berkeliaran. Mereka sudah lelah, dan beristirahat dari apa yang mereka kerjakan di siang hari."

Saat itu pula spontan saya menjadi pendengar yang budiman tanpa ikut berkomentar.

Ambyar. Walhasil saya ikut merenung bersamanya~

04 August 2019

Tertawa



Cara mudah dan sederhana untuk bahagia adalah tertawa. Kita bisa menertawakan apa saja yang berada di sekeliling kita. Tapi ingat, tertawa kita akan lebih mudah jika kita sudah bisa menertawakan diri kita. Sebab puncak bahagia kita ada di dalam diri kita.

Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana didalam diri kita yang bisa dibuat untuk bahan tertawa. Contoh salah satunya adalah ketika memikirkan kenapa rambut ketiak kita tak sepanjang rambut yang ada di kepala kita. Andai saja panjangnya sama seperti rambut di kepala kita, apa tidak bingung harus di sembunyikan dimana, atau perlukah kita mengklabang dan mengkuncritnya, bahkan menyemirnya.

Dan saya sadar, ternyata tidak seterusnya ketika kita bahagia akan tertawa. Ketika berada diposisi puncak yang paling bahagia, kita akan menangis. Mengeluarkan air mata. Bukan sedih. Tapi bahagia.

Mengingat bahwa setiap sesuatu itu perlu adanya evaluasi atau koreksi. Salah satunya yaitu akreditasi. Saya yakin, setiap orang yang bekerja di kantoran pasti mereka merasakan ngilu di kepala yang berkepanjangan, atau bahkan merasa akan mimisan jika tempat atau lembaga yang mereka kelola akan di akreditasi atau di nilai. Akreditasi merupakan salah satu program pemerintah untuk menilai atau mengevaluasi tempat atau lembaga yang di kelola. Apakah tempat tersebut benar-benar layak atau tidak.

Pada situasi saat itu semua pengelola atau tenaga akan dibuat repot dan gaduh, segaduh pasar tumpah. Mereka akan menyiapkan berkas-berkas atau hasil kinerjanya. Mulai dari laporan program yang terlaksana, sampai tetek mbengeknya. Pikiran mulai tegang, setegang urat yang ada di leher membesar ketika kita berteriak atau bernyanyi lantang dan bergembira. Semua akan berfikir bahwa asesor atau tim penilai akan memarahi dan menilai jelek lembaganya.

Ternyata, apa yang difikirkan tidak sebanding dari persiapannya. Serepot dan sebingung apapun orang-orang di sekitar kita merupakan orang-orang yang murah dan mudah tertawa. Bisa merubah situasi menegangkan menjadi komedian. Merubah situasi garing menjadi riang. Membalut keseriusan dengan candaan.

Di gambar tersebut mereka bukan menertawakan, tapi tertawa. Ingat, Menertawakan dan tertawa itu berbeda.~

14 June 2019

Pengorbanan

Awal mula saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa untuk mencapai sesuatu yang indah itu seutuhnya butuh pengorbanan. Pendapat itu dapat menguatkan hati, perasaan dan tubuh saya untuk menggebu-gebu mencapai apa yang saya inginkan.

Saya juga merasa bahawa pengorbanan merupakan pekerjaan yang sakit dan melelahkan, serta memerlukan hal yang kita korbankan. Tapi, akan membuat kita mengerti apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Jika kalian sudah mengerti bahwa perjalan akan menyakitkan, pasti akan menyediakan obat-obatan, kadas, kurap, jamur, gatal, monggo dipun bukti-aken nek mboten wantun mangke arto wangsol sangking sepuloh ewu dados rongpuloh ewu..! ~

Yang pasti kalian akan menyiapapkan hal-hal yang dapat menghilangka rasa sakit itu. Semisal kalian mengerti bahwa nanti akan lapar, sesuatu yang kalian persiapkan adalah makanan, lain dan seterusnya.

Tapi untungnya kita memiliki rasa kebahagiaan yang spontan. Kita sudah terbiasa menghadapi kesengsaraan dengan bersenang-senang. Sebagian dari kita jika memiliki beban pikiran pasti auto udud, guya-guyu dan cekaka-an.

Setelah saya memulai berjalan dan merasakan, ternyata benar, pengorbanan itu butuh paksaan, dan paksaan itu menyakitkan. Untuk menghilangkan sara sakit dari paksaan pasti juga butuh pengorbanan. Pengorbanan membutuhka lagi paksaan, paksaan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan lagi paksaan seterusnya dan seterusnya. Sampai terbiasa dan merasakan cinta dari pengorbanan.

Hal ini membuat saya sadar, bahwa untuk mencapai hal yang indah dan menggapai apa yang dicita-citakan hanya sedikit butuh pengorbanan, selebihnya cinta dan kasih sayang~

17 March 2019

Piye Penak Pora



Nyimak berita yang termuat diliputan6 mengenai DPW terciduk di sidoarjo tersebut mengingatkan saya dengan ucapan cak Lontong yang tampil dalam standup komedi mengenai korupsi, dan cak Lontongpun berperan sebagai koruptor. Cak Lontong memberi salam kepenonton dan salamnya dijawab olehnya sendiri. Temannyapun bertanya heran, "Loh cak..?", "Saya koruptor, koruptor itu serakah. Mengucap salam mendapat pahala, menjawabpun juga mendapat pahala. Dan saya tidak hanya serakah dengan uang saja, salampun saja juga serakah".

Alakulihal saya menyimpulkan bahwa memang orang yang seperti itu serakah. Apapun miliknya harus banyak. Tidak hanya uang, agamapun sekarang bisa dijadikan alat untuk berkorupsi.

Emha juga pernah berpendapat, bahwa pancasila itu suatu dinamika manajemen, dan sila kelima adalah gold nya, yaitu keadilan sosial. Tapi sekarang orang-orang ndak mau sila kelima. Kebanyakan orang-orang ingin kemakmuran dewe-dewe bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, banyak orang yang mementingkan diri-sendirinya, mikir karepe dewe, ndak untuk orang lain.

Kitapun harus belajar kepada semut, yang derajat kemakhlukannya lebih rendah dari kita. Semut jika sudah membawa ikan gerih tidak akan tergoda oleh gula yang kita sebarkan di sebelahnya.

Dan sekarang RomLi sedang menjalankan kebaikan. Yaitu menjalani proses pemeriksaan dan hukuman dari kesalahan yang dibuatnya~

25 January 2019

Pendengar Budiman

Hace langsung nylethuk, "susah cuk, aku di kira selingkuh sama tetanggaku". Sayapun ndak pati respon. Mbesengut. Mrengut. Dingin, datar. Si temanku satunya Haikal Fikri ini langsung merespon, "nyapo ce?, sopo seng ngira kowe selingkuh?". Balas Hace "kekasihku lah!". Bajigur tenan!, teman saya Hace ini ternyata lagi mencurahkan hatinya. Sambat. Dari ini mereka mulai serius ngobrol.

"Masak dikira aku selingkuh sama tetanggaku seng kinyis-kinyis kui", jelas Hace. Dan Haikalpun langsung merespon, "lha mak jawap kepriye?". "ya langsung tak sauri, Ga mungkin lah. Wong saya beda keyakinan sama tetanggaku itu". Haikal pun seketika mbesengut "Keyakinan kepriye?". "ya beda cuk, aku yakin kalo aku suka sama tetanggaku kui, tapi tetanggaku tidak", lontar Hace.

"njur kekasihmu piye?".

"ya, aku langsung dijiwiti, tapi jiwit mesra", jelas Hace sambil mesam-mesem. "Dia tetep ngeyel, katanya aku tetep berhubungan sama dia". Sampai sini saya tetap menjadi pendengar setia. Sebab saya berusaha menjadi pendengar yang budian, dari pada tukang komentar yang klejingan.

Si Haikal terus mengejar dengan banyak pertanyaan "terus responmu gimana? Kekasihmu tetep nesu? ". Dengan santai ala kebiasaannya, Hacepun menjelaskan, "tak jawab, Seharusnya ya kamu seneng, bangga. Aku disukai gadis cantik seperti dia, sekinyis-kinyis kaya dia. Dari pada aku di sukai celeng, sama kirik. Kamu rela po tak poligami sama kirik?".

Edan, seketika saya kemekel bagai orang yang menikmati guyonan pelawak Bagiyo dan teman-temannya.

Haikalpun langsung meneng. Diam. Hidungnya mimisan~