SAYA PUNYA seorang teman, ndak bisa di sebut dekat, tetapi juga ndak bisa disebut jauh. Hasyim namanya, Hace julukannya. Parahnya sampai sekarang saya ndak ngerti apa alasan dia di juluki Hace.
Dia salah satu teman karib saya sejak mulai awal kuliah. Dia tergolong kawan saya yang menyenangkan, sebab ndak disangka dan tak dapat menyangka terkadang dia punya cerita segudang yang membuat saya selalu tertawa hingga kaku perut saya.
Tanpa saya sadari ketika saya bersama dengannya dan bertukar cerita, lupalah hutang-hutang saya. Walaupun hanya sesaat dan pada akhirnya teringat lagi hutang saya. Sempat saya saat tertawa dengannya seketika diam, meneng, anteng, hening, dan batin saya berkata "ternyata bahagia dan tertawa adalah salah satu kekayaan yang tiada bandingannya".
Semenjak masih di lingkungan perkuliahan saya sering bertemu dangannya di kelas, kantin, dan kos saya. Hampir tak pernah absen dia saat ada jeda jam perkuliahan selalu istirahat di kos saya. Terkadang saya menyuruhnya untuk istirahat di kos sendiri tanpa saya.
Saat istirahat bersama di kos dan jam perkuliahan selanjutnya hampir mulai, ternyata dia sudah macak rapi, dan saya pun belum siap-siap untuk berangkat. "ke mana, Ce?" Tanya saya berbasa-basi kepada Hace setiap kali dia sudah terlihat rapi.
Hace selalu menjawab dengan jawaban yang singkat dan lugas. "BIASA TO, LE.."
Adegan tersebut sudah terjadi entah berapa kali. Dan saya cuma bisa cengengesan sambil bangkit dari tempat tidur untuk bergegas menyiapkan diri. Padahal demi Tuhan, jika diingat, dulu itu saya ndak ngerti apa yang di maksud dengan "biasa" dari jawabannya. Padahal kadang kita mampir ke angkringan, mampir dulu ke kantin, atau sebat di depan kelas. Dan itu pekerjaan yang ndak mesti dan ndak biasa. Hedeuh~


