
"Koyo cah gereng bae we pesen teh anget"
Sebatang rokok saya nyalakan. Hisapan dan kepulan asap pertama yang saya hembuskan mengawali pembicaraan saya.
"Kowe ndak ngerti po? Sakki zamannya dimana kita berkecenderungan menjawab apa pun dan mengomentari apa pun tanpa ngerti kenyataan".
Teman karib saya diam. Meneng. Anteng sembari menunggu teh hangat pesanannya.
Saya lanjutnkan, "Selalu ada dua hal yang saling bertolak belakang dalam diri manusia, kebaikan dan keburukan. Orang yang dicap jahat tidak selamanya jahat, begitupun sebaliknya".
Tetap anteng dengan posisinya. Kali ini diiringi satu sruputan teh hangat yang sudah ada di depannya.
"Mengapa saat ini kekejaman manusia sering melebihi batas. Bahkan sebagian dari manusia kemudian begitu mudah menghukum manusia lainnya?".
Tanpa melihat responnya saya melanjutkan, "Tujuan eksis acap kali lebih kita agungkan ketimbang bertulus kepada hati sendiri bahwa kita tak ahli dalam bidang apapun".
Terus saya lanjutkan, "Kita tinggal pilih, Tuhan memberi kita ujian, teguran, atau cobaan. Jika kita memilih cobaan bersyukurlah, sebab kita yang dicoba, bukan menjadi alat untuk mencoba".
Sambil membayar teh hangatnya dia berucap, "semoga apa yang kamu katakan tidak membatasi apa yang akan kamu lakukan.."
Dia pulang.
Saya diam.