Suasana di warung memang tak seperti di kantor kerja yang isinya serius terus -walau kadang ada yang gak serius blas-, yang jika di terapkan di lingkungan rumah membuat kasihan tetangga kita. Walhasil saya malah tertarik menjadi pendengar budiman diantara mereka.
Merekapun mulai saling tanya jawab dan bersautan. Bagai bunyi burung prenjak sawah yang tek... tekk... Cerrrrr... Piceek... Piceeekk... "Anakku wes 2 jeh.." jawab temannya yang sama ngopinya.
"Sama cuk, anakku ya wes 2". Cletuk orang di sebelah saya ini. "Anakku itu lo, kok aneh aneh to, yang terahir ini dia sering bingung, sering lupa, kadang ya mengkhayal". Lanjut dia sambil menuangkan kopinya di lepek.
"Menghayal kepiye makaudmu jeh?". Tanya temannya penasaran.
"Lha mosok jik 2 tahun wes muni, 'pak aku wes lulus sarjana, ndek wingi tas wisuda!' ". Ya tak iyani wae musuh aku, malah tak lem "wah, hebat le. Teruss??". Asiknya mereka disambung nyruput kopi.
"Lha terus, bocahe jawap apa?". Tanya temannya tadi.
Agak terbatuk si orang dekat saya ini langsung nyeltuk, "ndilalah kok bocahe langsung ganti tanya nng aku to jeh, 'terus ngeneki aku kudu ngapain pak?' ".
Modyarrr..., seketika anteng semua. Sayapun hampir sesak napas.~

