27 March 2020

Melupakan Kehilangan



Kelakar teman saya secara tetiba, "padahal kenalnya cuma sebentar, tapi lupanya kok lama?". Waini, dentuman apa lagi yang akan dia hujamkan.

Mengawali percakapan, seperti biasa dia ndak ndayani ketika berbicara. Diiringi dengan pola langkahnya yang seirama. Karna yang pasti saat berjalan, kaki yang satu dengan lainnya memang bergantian. Kalau secara bersamaan itu melompat: melompat juga ada yang memakai langkah.

"Aku kok ndak habis fikir to jeh, ketika berusaha melupakannya kok malah aku mengingatnya. Parahnya lagi, ketika aku kehilangan kok malah dianya terasa semakin dekat." Lhadala, lak da'ik tenan.

Semakin jauh dia melangkahkan kakinya, semakin cepat pula yang diucapkannya. Untungnya kok hanya beberapa poin saja yang dapat saya fahami. Jika banyak, pasti tak satu katapun yang saya tanggapi. Sebab ketika dia berkata suaranya pelan, tapi masih terdengar. Tersaing bunyi kenalpot motor lewat yang sekarang tambah makin sangar.

Sebelum tiba di tempat yang kami tuju, yang pasti saya perlu menyiapkan beberapa tanggapan yang sedikit terpaksa harus saya sampaikan kepadanya. Karena jika tidak, pasti dikira saya njegidhek meneng tak memperdulikannya. Ya ndak apa walau sedikit, itung-itung sebagai pencitraan. Biar dikira saya teman yang benar-benar berperan sebagai teman.

Saya sudah menyiapkan amunisi yang akan saya hunjamkan ke dia. Yakni berupa tanggapan tentang melupakan dan menghilang.
Perlu dia fahami, bahwa melupakan itu merupakan salah suatu pekerjaan mengingat. Untuk melupakan, dia harus mengingatnya. Walhasil, semakin kamu melupakan semakin pula kamu mengingatnya. Berbeda jika dia lupa. Lupa itu peristiwa yg ujug-ujug. Lupa itu terjadi dengan sendirinya. Dia pasti tak bisa melakukan pekerjaan melupakan agar dia lupa. Yang ada malah dia mengingatnya.

Segendang sepenarian dengan menghilang. Saya diajari oleh kehidupan bahwa perbuatan menghilangkan adalah suatu bentuk kehadiran yang justru lebih terasa. Kehilangan adalah wujud dari kehadiran. Semakin saya merasa kehilangan semakin terasa pula kehadirannya.

"Kok meneng bae jeh!". Makdheg. saya baru sadar ternyata sudah sampai di tempat yang kami tuju. Seketika itu saya juga sadar ternyata saya terlalu lama menyiapkan amunisi untuknya. Walhasil, ndak tersampaikanlah apa yang akan saya hunjamkan ke dia. Ndak apa, biarlah angan ini berkliaran di fikiran saya. Dia pasti juga diajarkan oleh kehidupannya.~

21 March 2020

Hanya bermain di tepi sungai



"Bila hidup yang kujalani tiap hari diibaratkan sebagai sungai, aliranku sedang tidak lancar, bahkan buntu di beberapa tempat. Airnya mengeluarkan bau busuk yang menyesakkan napas. Aku sering ingin melompat ke ruang waktu yang lain, tak peduli ke masa depan atau masa lalu, yang penting bukan saat ini. Aku sangat bosan dengan hidupku. Aku mendambakan ruang dan waktu yang lebih nyaman, tenang, dan tentram. Lepas dari kejaran beban."

Seperti yang disampaikan Rani Rachmani Moediarta lewat novelnya, bahwa sampai saat ini banyak orang yang mengibaratkan hidupnya seperti sungai, hanya mengikuti arus, bagai sepotong gabus terapung-apung tak berdaya dibawa arus sungai.

Hingga tak jarang mereka merasakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya terasa berat dan membingungkan, merasa terombang-ambing tanpa keputusan dalam drama yang dibuatnya sendiri. Pada ahirnya mereka akan mencoba melawan arus, dan mereka akan merasakan lelah yang begitu luar biasa, sebab sungai kehidupan itu bukan hanya berarus deras melainkan juga tanpa muara, tiada ujungnya sampai hidup kita selesai.

Padahal bila kehidupan ini memang seperti sungai, mestinya kita bisa bermain-main saja di tepinya, cukup di pinggir mengamati arusnya, dan bukan sengaja mencemplungkan diri ke deras arusnya. Setidaknya, cukuplah mencelupkan kaki ke dalam airnya untuk menguji suhu dan memperkirakan kedalamannya. Bisa pula melukiskan pemandangan disana, berkaca pada permukaannya, atau merenanginya. Tidak harus menjadi sepotong gabus atau kembang sungainya, Hingga ahirnya kita tak lagi merasakan beban hidup yang begitu luarbiasa.