Anak kecil berpenampilan kumuh yang sedang mencari rumput dengan aritnya itu berlari terbirit-birit mengejar seorang bapak yang baru keluar dari gerbang bermodel kebagusan dan kemegahan.
Ia terus berlari dengan mengacung-acungkan aritnya, serta tangan yang satunya sambil memegangi celana pendeknya yang mlorat-mlorot karena koloran celananya yang sudah molor itu hanya ditali dengan rafia yang sempat dikaisnya.
Bersamaan dengan nafasnya yang terengah-engah ia berteriak, "Bapak... Tunggu.."
Orang yang berumuran bapak-bapak dengan perut sedikit kelihatan buncit, tapi masih kelihatan muda dan berbaju seragam rapi serta bersepatu pantopel ala kantoran itupun seketika menoleh ke belakang, dengan wajah yang sedikit kebingungan, perasaan yang penasaran, gonjang-ganjing tak karu-karuan, serta fikiriran terus menebak-nebak apa yang akan anak itu lakukan kepadanya hingga ia lari seperti itu.
Bapak itupun kebingungan antara berbalik badan dan melarikan diri dengan perasaan bertanya-tanya "ada keperluan apa anak itu kepada saya", atau bertekat menghadapinya dengan berbekal keberanian. Ahirnya dengan perasaan yang dipaksa untuk berani dan wajah yang diseram-seramkan, bapak itupun bertekat untuk menghadapi anak itu, meyakinkan diri karena selain itu ia juga pernah belajar silat dan beberapa kali pernah memenangkan lomba kejuaraan.
Tiba dihadapan orang tersebut, anak itu langsung melihat kolorannya dahulu dan menalikan ikatan rafia agar tak perlu di peganginya, lekas pandangannya baru menghadap ke bapak tersebut, mendapati bapak tersebut sudah pasang kuda-kuda siap menangkis dan menghantam. Seketika anak itu mengerutkan kening dan penasaran.
"Apa yang bapak lakukan?" dengan penasaran anak itu bertanya.
"saya hanya bersiap membela diri dengan apa yang akan sampeyan lakukan" jawab bapak itu dengan logat sedikit kejawa-jawaan.
"Oh, maafkan saya pak, maaf bukan maksut saya akan berbuat jahat kepada bapak, sekali lagi maaf" anak itu segera mengais tangan bapak itu untuk bersalaman.
"saya cuma ingin bertanya kepada bapak, apakah keberatan pak?" ia memberanikan diri untuk mengungkapkan keperluannya dengan gaya merasa bersalah atas tingkah lakunya tadi.
"Boleh nak, asal arit yang sampeyan bawa itu sampeyan amankan"
"Baik pak, tapi maaf lo pak, jika pertanyaan ini terkesan lucu dipendengaran bapak, saya harap bapak berjanji tidak menertawakannya"
Dengan kening yang berkerut dan berat hati bapak itu menyetujui perjanjian yang diajukan. "Tentu saja tidak nak, dengan senang hati saya akan menjawab pertanyaanmu"
"begini lo pak, gimana ya, saya malu pak, hem.. Apa ya". Sambil memainkan dua ujung rafia yang melingkar dipinggangnya yang bertemu tepat dibawah pusarnya, anak itu sangat malu untuk menyampaikan pertanyaanya.
"silahkan nak, ndak apa, saya akan berusaha menjawab dan tidak menertawakan"
"Jika saya lihat-lihat dari sekian orang yang keluar dari gerbang itu, menurut saya hanya bapak orang yang baik dan bisa menjawab pertanyan saya." Anak itu memujinya.
"Ah, bisa saja sampeyan ini nak, masih banyak orang-orang yang lebih baik dari saya diluar sana nak, silahkan bertanya nanti saya akan berusaha menjawab"
"begini lo pak, saya hanya mau bertanya, hemm.. Gimana ya, eemm... Itu lo pak, masalah pak lurah. Apakah boleh pak lurah itu bangun kesiangan? "
Dengan ekspresi yang kaget bapak berbaju rapi itu mengambil nafas dan berusaha menahan keringat yang akan keluar dari keningnya dan menyembunyikan wajahnya yang kebingungan.
"Pertanyaanmu sungguh bagus nak, kelihatan sepele, tapi sebenarnya menyangkut tentang manajemen kepemimpinan, tentang moral seorang pemimpin, hingga nilai-nilai dalam kitab. saya yakin kelak sampeyan akan jadi orang yang luar biasa"
"sebentar bapak. sebentar. sungguh saya tidak mengerti apa yang bapak katakan, coba dijelaskan lagi"
"Wah, sayang. Tapi saya tidak punya banyak waktu nak, saya harus cepat-cepat bergegas mendatangi acara di kecamatan"
"Walah, walah, saya belum mendapatkan jawaban yang saya harapkan dari bapak". dengan mengerutkan kening dan bermimik kecewa seketika muncul di wajah anak itu.
"butuh waktu yang lama untuk menjawab pertanyaanmu nak. Teruslah mencari jawaban, kelak saya yakin sampeyan akan menemukan jawabannya. Dan sampean akan menjadi orang yang luar biasa"
Bergegas, bapak berpakaian rapi itu pergi meninggalkan anak tersebut.~