23 March 2018

Mushola Ilang Kumandhange

Dulu, jauh sebelum kunang-kunang seperti sekarang yang malu berkeliaran, jauh sebelum terkenalnya lagu jaran goyang. Anak-anak masih asyik dengan sejuta permainan. Tapi sekarang, sudah ndak ramai. Suwung. Sepi. Sunyi.

Mushola kecil yang dulu sebagai tempat peristirahatan selepas bermain bola sepak di sore hari, tempat berkumpulnya anak-anak menjelang adzan magrib saat matahari mulai membenamkan diri, dan juga tempat tidurnya anak-anak sebagai pengganti rumah kedua, kini sepi. Tak ada lagi mereka yang berteriak-teriak, mereka yang kejar-kejaran, mereka yang ndhelekke sendal temannya.

Sekarang anak-anak lebih memilih permainan yang melelahkan, terlalu mikir. Seperti bermain catur (Saya ndak mengerti catur itu jenis permainan atau olahraga), permainan yang membingungkan melelahkan, butuh ekstra mikir. Padahal yang saya tau permainan itu menyenangkan dan menggembirakan.

Anak-anak juga lebih memilih ketempat tongkrongan, cangkruk wif-an, melek-an, dengan ngopi beserta rokok-an. Padahal, di tempat itu sekarang tak ada bedanya dengan kuburan. Sepi. Jika sampean-sampean pergi kewarung, coba pikirkan apa yang sampean rasakan, kopi atau uji nyali?

Masjid dan mushola dulu merupakan pusat pendidikan, pusat perkumpulan, pusat anak-anak melakukan permainan. Tak jarang juga sebagai tempat berkumpulnya anak-anak untuk bermusyawarah melakukan pengambilan, pengambilan buah tetangga yang menggoda. Selesai mulus melakukan pengambilan buah yang sudah direncanakan, mereka kembali kemushola untuk menikmati hasil perjuangannya. Sekarang, jika ada anak yang berlarian dimarahi, disentak-sentak. Bahkan pintu mushola dikunci. Digembok. Tutup. Rapet.

Sampean-sampean juga pernahkan, di mushola awal mula belajar remian. Menyenangkan bukan?~

No comments:

Post a Comment