
Akhir-akhir ini sebagai bangsa, kita merindukan sesuatu yang harmonis dan menenangkan. Orang-orang amat sibuk oleh kerja, gengsi serta derita. Tak pernah berkesempatan untuk mencari siapa sebenarnya dirinya. Sehingga lupa akan sebagian hartanya untuk siapa. Ada juga yang sampai lupa keluarga, bahkan anaknya.
Di dunia ini, Allah memuliakan beberapa hamba-hambanya dengan menakdirkan sebagai anak-anak yatim. Setiap muslim wajib menyantuni anak-anak yatim, baru kemudian orang-orang miskin. Itulah tanda-tanda kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada anak-anak yatim.
Akan tetapi, adapaun di dunia yang dikatakan maju dan modern ini sebagian pekerjaan penting manusia-manusia malah meyatimkan anak-anaknya. Mereka sibuk bekerja hingga menjadikan anak-anak mereka teryatimkan. Kapan saja anak-anak yang tidak memperoleh perhatian, cinta kasih, dan santunan dari orang tuanya, pada waktu-waktu itu dia menjadi yatim.
Kalau bapaknya sibuk rapat, ibunya sibuk arisan, kalian bisa lihat setiap jam berapa anak yang diyatimkan. Kemudian dari anak-anak yang diyatimkan tersebut lantas mencari orang tuanya di dunia abstrak. Mereka mencari dimana mereka tak tahu harus mencari kemana. Sehingga ada yang dijalanan, tidak tau batas baik dan buruk, dan parahnya membuat mereka tidak bisa menghargai sesama manusia.
Betapa melimpahnya anak-anak yatim di sekitar kalian. Entah benar-benar yatim atawa diyatimkan. Jika bisa kalian bantu, maka bantulah. Jika bisa kalian santuni, maka santunilah. Jika kalian ingin ikut merasakan keyatimannya, maka rasakanlah. Tapi setidaknya ber-dzikir-lah untuk mengingat mereka.

