17 May 2020

Benar-benar yatim atawa diyatimkan?


Akhir-akhir ini sebagai bangsa, kita merindukan sesuatu yang harmonis dan menenangkan. Orang-orang amat sibuk oleh kerja, gengsi serta derita. Tak pernah berkesempatan untuk mencari siapa sebenarnya dirinya. Sehingga lupa akan sebagian hartanya untuk siapa. Ada juga yang sampai lupa keluarga, bahkan anaknya.

Di dunia ini, Allah memuliakan beberapa hamba-hambanya dengan menakdirkan sebagai anak-anak yatim. Setiap muslim wajib menyantuni anak-anak yatim, baru kemudian orang-orang miskin. Itulah tanda-tanda kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada anak-anak yatim.

Akan tetapi, adapaun di dunia yang dikatakan maju dan modern ini sebagian pekerjaan penting manusia-manusia malah meyatimkan anak-anaknya. Mereka sibuk bekerja hingga menjadikan anak-anak mereka teryatimkan. Kapan saja anak-anak yang tidak memperoleh perhatian, cinta kasih, dan santunan dari orang tuanya, pada waktu-waktu itu dia menjadi yatim.

Kalau bapaknya sibuk rapat, ibunya sibuk arisan, kalian bisa lihat setiap jam berapa anak yang diyatimkan. Kemudian dari anak-anak yang diyatimkan tersebut lantas mencari orang tuanya di dunia abstrak. Mereka mencari dimana mereka tak tahu harus mencari kemana. Sehingga ada yang dijalanan, tidak tau batas baik dan buruk, dan parahnya membuat mereka tidak bisa menghargai sesama manusia.

Betapa melimpahnya anak-anak yatim di sekitar kalian. Entah benar-benar yatim atawa diyatimkan. Jika bisa kalian bantu, maka bantulah. Jika bisa kalian santuni, maka santunilah. Jika kalian ingin ikut merasakan keyatimannya, maka rasakanlah. Tapi setidaknya ber-dzikir-lah untuk mengingat mereka.


10 May 2020

Berita


Dizaman sekarang ini yang penuh permusuhan dan perfitnahan, kita harus kendalikan ucapan, perbuatan serta pikiran. Kita sedang berada dizaman yang terlalu nyaman, tapi bagai berjalan ancik-ancik ri. Waspadalah, waspadalah, waspadalah!.

Media-media selalu memberitakan yang belum tentu benar. Banyak bumbu-bumbu serta lauk-pauk yang bermacam dicampurkan ke berita agar menarik dan mendapat sanjungan pelanggan. Sehingga timbulah fitnah, permusuhan serta perpecahan dan saling menjatuhkan.

Disini internet memang bagus untuk membantu berkomunikasi dan penyebaran berita , tapi sangat buruk untuk pembangunan mental manusia. Maka dari itu kita harus mampu mendidik untuk mengendalika  diri.

Ingat, saat kita membuat berita untuk melemahkan sama dengan menendang untuk menjatuhkan, dan saat itu pula kita dalam posisi berdiri dengan satu kaki. Dengan itu malah kita memiliki banyak kesempatan untuk dijatuhkan.

Walhasil, cara jitu dan ampuh untuk menghadapi keadaan saat ini ialah dengan seperti ekspresi pada gambar!. Tenang. Santai. Kendalikan keadaan. Tinggalkan kehidupan yang ruwet dan rumit. Serta jangan lupa, ajak untuk tertawa. Jadikan semua yang membuat bingung itu menjadi kenikmatan.

Walaupun terkesan sulit karna setiap sifat seseorang berbeda, tapi saya yakin, kita pasti bisa.~


04 May 2020

Wanita Karir


Ketika nabi Muhammad ditanya, kepada siapa harus berbakti, pertama nabi menjawab, Ibu, kemudan nabi menjawab lagi Ibu, sampai ke tiga kalinya, kemudian baru seorang ayah.

Dari hadis yang sudah pernah dijelaskan, kita semua tau betapa Islam menjunjung tinggi dan sangat memuliakan kaum wanita, wabil khusus Ibu. Nabi menjelaskan bahwa derajat Ibu itu tiga tingkat di atas derajat ayah bagi anaknya.

Diluar sana tak sedikit kaum wanita yang memperjuangkan, bahkan merebutkan bak Kartini bercelana Jeans, yang artinya punya semangt tinggi, tak seperti Kartini yang ipit-ipit, susah melangkahkan kaki karena memakai kain sempit untuk menjadi seorang yang berkarir. Ingin memiliki pekerjaan yang tetap. Berusaha untuk bekerja ditempat kerja yang agraris. Berseragam.  Pergi kekantor, kemudian pulang dari kantor. Dan tak lupa gaji yang tetap.

Saya tidak tau jika yang menjadi patokan disebutnya wanita berkarir adalah kaya dan memiliki kemandirian ekonomi, seorang Ibu rumah tangga itu tergolong wanita berkarir atau hanya sekedar Ibu rumah tangga saja. Disamping hanya di rumah, kesehariannya kadang ya di sawah, ya mepe gabah, napeni hawok-hawok, ya ke pasar, ya mencuci pakaian sang bapak dan anak, ya bersih-bersih rumah, ya kadang ikut PKK, ya memasak, ya beranak.

Dan tidak luput ketinggalan ya memenuhi kebutuhan psikologis sang bapak.~