23 December 2019

S1



"He cuk!, anakmu wes pira?". Sambil ngudhek kopi, tanya orang di sebelah saya kepada temannya. Sepertinya mereka merupakan teman karib lama yang sudah tidak saling bertemu dan bercumbu.

Suasana di warung memang tak seperti di kantor kerja yang isinya serius terus -walau kadang ada yang gak serius blas-, yang jika di terapkan di lingkungan rumah membuat kasihan tetangga kita. Walhasil saya malah tertarik menjadi pendengar budiman diantara mereka.

Merekapun mulai saling tanya jawab dan bersautan. Bagai bunyi burung prenjak sawah yang tek... tekk... Cerrrrr... Piceek... Piceeekk... "Anakku wes 2 jeh.." jawab temannya yang sama ngopinya.

"Sama cuk, anakku ya wes 2". Cletuk orang di sebelah saya ini. "Anakku itu lo, kok aneh aneh to, yang terahir ini dia sering bingung, sering lupa, kadang ya mengkhayal". Lanjut dia sambil menuangkan kopinya di lepek.

"Menghayal kepiye makaudmu jeh?". Tanya temannya penasaran.

"Lha mosok jik 2 tahun wes muni, 'pak aku wes lulus sarjana, ndek wingi tas wisuda!' ". Ya tak iyani wae musuh aku, malah tak lem "wah, hebat le. Teruss??". Asiknya mereka disambung nyruput kopi.

"Lha terus, bocahe jawap apa?". Tanya temannya tadi.

Agak terbatuk si orang dekat saya ini langsung nyeltuk, "ndilalah kok bocahe langsung ganti tanya nng aku to jeh, 'terus ngeneki aku kudu ngapain pak?' ".

Modyarrr..., seketika anteng semua. Sayapun hampir sesak napas.~

02 December 2019

Sunyi,



Sebagian dari kalian pasti menyadari bahwa semakin lama keadaan di sekeliling kalian semakin sepi. Sepi yang bukan berarti sepi, tetapi sepi karena perasaan sendiri. Semakin berkurang teman yang sejalan dengan pikiran kalian. Satu persatu memisahkan diri. Parahnya lagi kadang mereka muncul saat kita tidak memerluknnya lagi.

Sebenarnya hidup ini sederhana, kita dapat berbahagia dengan cara kita sendiri. Dengan spontan tertawa, mengingat pengalaman kita, bahkan dengan menertawakan diri kita. Atau mungkin bila semua itu tetap tak bisa membuat bahagia, bisa juga secara sedikit terpaksa sebagian dari kalian harus menikah dengan lawan jenis. Dan ini juga ndak menjamin kebahagiaan kaliaan. Tergantung bagaimana mengelola hidup kalian.

Dengan keadaan sesepi itu, suatu saat kalian pasti ingin menangis. Menangis yang keras, yang bukan berarti tetangga sebelah kalian bisa tertanggu oleh tangisan kalian. Tetapi tangisan yang sunyi, hanya hati serta tuhan yang menyadari.

Akankah dengan keadaan seperti itu membuat kalian mandeg jegreg, atau malah mengembara di dalam pikiran dan batin kalian? Padahal yang perlu kalian renungkan bukan masalah sunyi atau sepinya keadaan kalian. Tetapi kesetiaan pada tuhan kalian. Kuatkah selama hidup kalian hanya bercinta dengan-Nya dan berpuasa dari yang lain-Nya?


Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung
Dalam kepalaku
(JokPin, doa malam)

03 October 2019

Malam tenang

Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.

Ditambah teman saya yang juga belum tidur membuat saya semakin mengurungkan niat untuk tidur.Seiring bergantinya hari saya lihat teman saya yang santai duduk di teras kamar.

Kulihat teman saya terdiam. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang melamun. Merenung. Berfikir. Entah apa yang dia fikirkan, kelihatan dari posisi duduk dan pandangannya.

Dia memandang kedepan, tapi bukan kedepan. Kedepan yang lebih jauh kedepan lagi, atau malah melihat kebelakang. Belakang yang sudah pernah terjadi dan dia rasakan. Sedikitpun tak berani saya untuk menegurnya.Ekspresi gelisahpun mulai dia tampilkan. Ditambah lagi saya yang merasa sendirian kuberanikan diri untuk menanyainya, "kowe nyapo gak turu-turu". Dia pun diam, hanya membalas dengan senyuman.

Kutanya lagi padanya, "urung ngantuk kowe?". Akhirnyapun dia membalas, "kadang saya berfikir, saya itu suka dengan malam. Suka dengan situasinya. Hening, sepi, dan sunyi. Di sepinya malam ini saya bisa berfikir untuk menilai hidup saya sendiri," jawab dia dengan pandangannya yang terus menghadap ke depan.

Mulailah dia banyak bicara, dan parahnya lagi situasinya bagai seorang murid dan guru privatnya, dan yang pasti saya berposisi sebagai muridnya. "saya suka dengan malam itu sebab di malam hari sepi, orang-orang sudah pada istirahat, dan lebih pentingnya dimalam hari tak banyak orang munafik. Polusi-polusi kemunafikan sudah tidak memenuhi lingkungan saya. Di malam hari tak banyak orang-orang yang berbohong berkeliaran. Mereka sudah lelah, dan beristirahat dari apa yang mereka kerjakan di siang hari."

Saat itu pula spontan saya menjadi pendengar yang budiman tanpa ikut berkomentar.

Ambyar. Walhasil saya ikut merenung bersamanya~

04 August 2019

Tertawa



Cara mudah dan sederhana untuk bahagia adalah tertawa. Kita bisa menertawakan apa saja yang berada di sekeliling kita. Tapi ingat, tertawa kita akan lebih mudah jika kita sudah bisa menertawakan diri kita. Sebab puncak bahagia kita ada di dalam diri kita.

Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana didalam diri kita yang bisa dibuat untuk bahan tertawa. Contoh salah satunya adalah ketika memikirkan kenapa rambut ketiak kita tak sepanjang rambut yang ada di kepala kita. Andai saja panjangnya sama seperti rambut di kepala kita, apa tidak bingung harus di sembunyikan dimana, atau perlukah kita mengklabang dan mengkuncritnya, bahkan menyemirnya.

Dan saya sadar, ternyata tidak seterusnya ketika kita bahagia akan tertawa. Ketika berada diposisi puncak yang paling bahagia, kita akan menangis. Mengeluarkan air mata. Bukan sedih. Tapi bahagia.

Mengingat bahwa setiap sesuatu itu perlu adanya evaluasi atau koreksi. Salah satunya yaitu akreditasi. Saya yakin, setiap orang yang bekerja di kantoran pasti mereka merasakan ngilu di kepala yang berkepanjangan, atau bahkan merasa akan mimisan jika tempat atau lembaga yang mereka kelola akan di akreditasi atau di nilai. Akreditasi merupakan salah satu program pemerintah untuk menilai atau mengevaluasi tempat atau lembaga yang di kelola. Apakah tempat tersebut benar-benar layak atau tidak.

Pada situasi saat itu semua pengelola atau tenaga akan dibuat repot dan gaduh, segaduh pasar tumpah. Mereka akan menyiapkan berkas-berkas atau hasil kinerjanya. Mulai dari laporan program yang terlaksana, sampai tetek mbengeknya. Pikiran mulai tegang, setegang urat yang ada di leher membesar ketika kita berteriak atau bernyanyi lantang dan bergembira. Semua akan berfikir bahwa asesor atau tim penilai akan memarahi dan menilai jelek lembaganya.

Ternyata, apa yang difikirkan tidak sebanding dari persiapannya. Serepot dan sebingung apapun orang-orang di sekitar kita merupakan orang-orang yang murah dan mudah tertawa. Bisa merubah situasi menegangkan menjadi komedian. Merubah situasi garing menjadi riang. Membalut keseriusan dengan candaan.

Di gambar tersebut mereka bukan menertawakan, tapi tertawa. Ingat, Menertawakan dan tertawa itu berbeda.~

14 June 2019

Pengorbanan

Awal mula saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa untuk mencapai sesuatu yang indah itu seutuhnya butuh pengorbanan. Pendapat itu dapat menguatkan hati, perasaan dan tubuh saya untuk menggebu-gebu mencapai apa yang saya inginkan.

Saya juga merasa bahawa pengorbanan merupakan pekerjaan yang sakit dan melelahkan, serta memerlukan hal yang kita korbankan. Tapi, akan membuat kita mengerti apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Jika kalian sudah mengerti bahwa perjalan akan menyakitkan, pasti akan menyediakan obat-obatan, kadas, kurap, jamur, gatal, monggo dipun bukti-aken nek mboten wantun mangke arto wangsol sangking sepuloh ewu dados rongpuloh ewu..! ~

Yang pasti kalian akan menyiapapkan hal-hal yang dapat menghilangka rasa sakit itu. Semisal kalian mengerti bahwa nanti akan lapar, sesuatu yang kalian persiapkan adalah makanan, lain dan seterusnya.

Tapi untungnya kita memiliki rasa kebahagiaan yang spontan. Kita sudah terbiasa menghadapi kesengsaraan dengan bersenang-senang. Sebagian dari kita jika memiliki beban pikiran pasti auto udud, guya-guyu dan cekaka-an.

Setelah saya memulai berjalan dan merasakan, ternyata benar, pengorbanan itu butuh paksaan, dan paksaan itu menyakitkan. Untuk menghilangkan sara sakit dari paksaan pasti juga butuh pengorbanan. Pengorbanan membutuhka lagi paksaan, paksaan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan lagi paksaan seterusnya dan seterusnya. Sampai terbiasa dan merasakan cinta dari pengorbanan.

Hal ini membuat saya sadar, bahwa untuk mencapai hal yang indah dan menggapai apa yang dicita-citakan hanya sedikit butuh pengorbanan, selebihnya cinta dan kasih sayang~

17 March 2019

Piye Penak Pora



Nyimak berita yang termuat diliputan6 mengenai DPW terciduk di sidoarjo tersebut mengingatkan saya dengan ucapan cak Lontong yang tampil dalam standup komedi mengenai korupsi, dan cak Lontongpun berperan sebagai koruptor. Cak Lontong memberi salam kepenonton dan salamnya dijawab olehnya sendiri. Temannyapun bertanya heran, "Loh cak..?", "Saya koruptor, koruptor itu serakah. Mengucap salam mendapat pahala, menjawabpun juga mendapat pahala. Dan saya tidak hanya serakah dengan uang saja, salampun saja juga serakah".

Alakulihal saya menyimpulkan bahwa memang orang yang seperti itu serakah. Apapun miliknya harus banyak. Tidak hanya uang, agamapun sekarang bisa dijadikan alat untuk berkorupsi.

Emha juga pernah berpendapat, bahwa pancasila itu suatu dinamika manajemen, dan sila kelima adalah gold nya, yaitu keadilan sosial. Tapi sekarang orang-orang ndak mau sila kelima. Kebanyakan orang-orang ingin kemakmuran dewe-dewe bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, banyak orang yang mementingkan diri-sendirinya, mikir karepe dewe, ndak untuk orang lain.

Kitapun harus belajar kepada semut, yang derajat kemakhlukannya lebih rendah dari kita. Semut jika sudah membawa ikan gerih tidak akan tergoda oleh gula yang kita sebarkan di sebelahnya.

Dan sekarang RomLi sedang menjalankan kebaikan. Yaitu menjalani proses pemeriksaan dan hukuman dari kesalahan yang dibuatnya~

25 January 2019

Pendengar Budiman

Hace langsung nylethuk, "susah cuk, aku di kira selingkuh sama tetanggaku". Sayapun ndak pati respon. Mbesengut. Mrengut. Dingin, datar. Si temanku satunya Haikal Fikri ini langsung merespon, "nyapo ce?, sopo seng ngira kowe selingkuh?". Balas Hace "kekasihku lah!". Bajigur tenan!, teman saya Hace ini ternyata lagi mencurahkan hatinya. Sambat. Dari ini mereka mulai serius ngobrol.

"Masak dikira aku selingkuh sama tetanggaku seng kinyis-kinyis kui", jelas Hace. Dan Haikalpun langsung merespon, "lha mak jawap kepriye?". "ya langsung tak sauri, Ga mungkin lah. Wong saya beda keyakinan sama tetanggaku itu". Haikal pun seketika mbesengut "Keyakinan kepriye?". "ya beda cuk, aku yakin kalo aku suka sama tetanggaku kui, tapi tetanggaku tidak", lontar Hace.

"njur kekasihmu piye?".

"ya, aku langsung dijiwiti, tapi jiwit mesra", jelas Hace sambil mesam-mesem. "Dia tetep ngeyel, katanya aku tetep berhubungan sama dia". Sampai sini saya tetap menjadi pendengar setia. Sebab saya berusaha menjadi pendengar yang budian, dari pada tukang komentar yang klejingan.

Si Haikal terus mengejar dengan banyak pertanyaan "terus responmu gimana? Kekasihmu tetep nesu? ". Dengan santai ala kebiasaannya, Hacepun menjelaskan, "tak jawab, Seharusnya ya kamu seneng, bangga. Aku disukai gadis cantik seperti dia, sekinyis-kinyis kaya dia. Dari pada aku di sukai celeng, sama kirik. Kamu rela po tak poligami sama kirik?".

Edan, seketika saya kemekel bagai orang yang menikmati guyonan pelawak Bagiyo dan teman-temannya.

Haikalpun langsung meneng. Diam. Hidungnya mimisan~