06 December 2018

Hubungan terlarang

Hubungan percintaan Gambret dengan Yani memang dapat terbilang romantis. Setiap orang yang melihat hubungan mereka pasti iri. Bisa dikatakan mereka memiliki hubungan percintaan yang sangat didambakan banyak orang. Siapa to yang ndak iri, wong orang lain melihat mereka itu ya romantis-romantis saja, ayem, tentrem, mulyo lan tinoto.

Gambret ini orangnya memang terkenal humoris, lucu, nyenengke, tur gampang ngangenke. Sedang si Yani juga gitu, anak yang baik, siapa yang mendengar gaya bicaranya pasti terhipnotis untuk tidak berpaling darinya. Bagaimana orang tidak iri, wong saben mereka lagi berduaan kelihatan romantis. Dalam hal ini bukan romantis mesra-mesraan. Tapi ketika misal bersama teman-temannya, mereka bisa menempatkan posisinya.

Tak sangka dan tak dinyana, hal yang tak diharapkan pun pasti terjadi. Suatau saat ketika si Gambret dan Yani berpisah karena keadaan pekerjaan, sehingga Gambret harus LDR-an dengan Yani.

Sesekali mereka berdua bertemu untuk saling melepaskan hasrat kekangenannya. Dimana mereka janjian disitu pula mereka ketemuan.

Awal mula mereka saling percaya, benih-benih kecurigaan dan kebosananpun lahir. "Yan, kowe lak ndak nakal toh di sana" tanya Gambret melalui chat Wasap ke Yani. Yanipun menjawab "Mboten kang mas, di sini Yani aman-aman saja, cinta Yani hanya untuk kang mas". Mereka pun saling tanya kabar dan menyatakan kekangenan mereka melalui cetingan ringan.

Namun waktulah yang menyebabkan perubahan semua. Mereka mulai jarang beradu kabar, jarang cerita. Jika di ajak cerita, mereka merasa sama-sama lelah. Jika salah satu diantara mereka ada yang mengeluh, pasti jawabannya sama, "aku juga seperti itu.." Bukan malah perhatian yang harus didapatkannya, tapi gantian eluhannya. Dan singkat cerita perubahan itu terjadi karena adanya sosok Dian. Bisa dibilang teman dekatnya Gambret dulu. Bukan mantan. Tapi juga bisa dibilang mantan.

Awalnya dari sttaus wasap Gambret yang selalu memancing perhatian. Pertama Dian hanya komen-komen ringan. Lama kelamaan menjadi serung chatingan. Gambret pun merasa nyaman atas kehadiran Dian. Gambret merasa bahwa Dian lebih mengerti keadaannya. Ditambah lagi Gambret dan Dian ini sudah saling kenal, dan sudah lama tidak bertemu.

Gambret memandang Dian dengan pribadi yang lebih dewasa dari Yani. Selain itu Ia juga mendapatkan lawan untuk mencurahkan kelelahannya.

Selang waktu terus berjalan. Mereka berdua sering janjian, mulai dari kafe mini, atau tempat makan. Gambret sudab menyembunyikan hubungan terlarang ini selama empat bulan.

Suatu ketika, celakanya mereka tidak hanya janjian di tempat tongkrongan atau makan. Gambret berani menyewa penginapan. Dan celakanya lagi Dian men-iyakan.

Singkat cerita mereka berdua berada di penginapan. Hanya berdua. Tanpa orang yang memiliki penginapan. Apa yang di lakukan mereka pun tak ketahuan. Pas lagi berduaan, Gambret kaget, dering ponselnya berbunyi. Celaka, itu adalah wasap Yani, yang bunyinya "Mas.. Jemput Yani di terminal sekarang! Yani pulang"

"Siapa?" tanya Dian. "Yani. Cewekku", jawab Gambret sambil menjelaskan. "ya sudah, cepat di balas".

"Aku harus segera menjemputnya", Bilang Gambret.
"iya, iya aku paham", jawab Dian.
"Bukannya gitu, bagaimanapun Yani tetap Cewekku", jelas Gambret dengan penuh kemesraan.

"Kalau begitu aku juga mau pulang", kata Dian sambil beranjak dari Gambret.
"Iya terserah kamu saja", jawab Gambret dengan penuh hangat dan cinta. "Besok kita ketemu lagi kan?", tanya Dian memastikan. "iya pasti ketemu".

"Terus habis ini kamu mau kemana?" tanya Gambret ke Dian.
"Sama sepertimu, MENEMUI CEWEKKU, mau makan."~

23 March 2018

Mushola Ilang Kumandhange

Dulu, jauh sebelum kunang-kunang seperti sekarang yang malu berkeliaran, jauh sebelum terkenalnya lagu jaran goyang. Anak-anak masih asyik dengan sejuta permainan. Tapi sekarang, sudah ndak ramai. Suwung. Sepi. Sunyi.

Mushola kecil yang dulu sebagai tempat peristirahatan selepas bermain bola sepak di sore hari, tempat berkumpulnya anak-anak menjelang adzan magrib saat matahari mulai membenamkan diri, dan juga tempat tidurnya anak-anak sebagai pengganti rumah kedua, kini sepi. Tak ada lagi mereka yang berteriak-teriak, mereka yang kejar-kejaran, mereka yang ndhelekke sendal temannya.

Sekarang anak-anak lebih memilih permainan yang melelahkan, terlalu mikir. Seperti bermain catur (Saya ndak mengerti catur itu jenis permainan atau olahraga), permainan yang membingungkan melelahkan, butuh ekstra mikir. Padahal yang saya tau permainan itu menyenangkan dan menggembirakan.

Anak-anak juga lebih memilih ketempat tongkrongan, cangkruk wif-an, melek-an, dengan ngopi beserta rokok-an. Padahal, di tempat itu sekarang tak ada bedanya dengan kuburan. Sepi. Jika sampean-sampean pergi kewarung, coba pikirkan apa yang sampean rasakan, kopi atau uji nyali?

Masjid dan mushola dulu merupakan pusat pendidikan, pusat perkumpulan, pusat anak-anak melakukan permainan. Tak jarang juga sebagai tempat berkumpulnya anak-anak untuk bermusyawarah melakukan pengambilan, pengambilan buah tetangga yang menggoda. Selesai mulus melakukan pengambilan buah yang sudah direncanakan, mereka kembali kemushola untuk menikmati hasil perjuangannya. Sekarang, jika ada anak yang berlarian dimarahi, disentak-sentak. Bahkan pintu mushola dikunci. Digembok. Tutup. Rapet.

Sampean-sampean juga pernahkan, di mushola awal mula belajar remian. Menyenangkan bukan?~

07 March 2018

Lupa

"Peristiwa dadakan yang kadang membuat kita terbebas dari segalanya, atawa benar-benar membuat kita merdeka adalah lupa." Kata teman disebelah saya tanpa memandang saya sedang apa.

Tak disangka dan tak menyangka, perkataan teman saya itu membuat saya tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suara saya, dan sayapun langsung nyletuk dengan nada keras tapi ndak ngeden "loh, kok iso jeh?".

"Lupa itu sebenarnya enak. Ketika kita lupa secara tidak sadar kita terbebas dari segalanya. Dengan lupa sebenarnya kita juga bisa bahagia." Kali ini dia teruskan dengan nada ceramahnya.

Walhasil karena sedikit terpaksa dan dibuat kikuk olehnya, saya dituntut oleh rasa penasaran saya, saya putuskan untuk menjadi penampung penjelasan teman saya itu.

Saya perhatikan terus gerak bibir teman saya. "Untuk lupa tak memerlukan belajar yang lama, tak memerlukan sampai kita sarjana dan tua. Pokoknya sebenarnya lupa itu enak, se enak kau kencing dari bangun tidurmu di pagi hari."

E lhadala, mulai sok puitis dia. "Kau tau teman, penghambat lupa itu adakalanya adalah jam, henpon, dan tanggalan. Kita dibantu mereka untuk tidak bisa menjadi lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara. Sialan."

Ku lihat terus dan kuperhatikan mimik wajah temanku itu. Ternyata di mimik wajahnya mulai ada rasa kecewa dan putus asa. Dengan sedikit pelan tak tergesa-gesa dia berucap "Tapi, lupa itu kapan, kapan dan kapan-kapan. Memang, Kerap kapan dan kapan-kapan menjadi teman yang menyakitkan."

Akhirnya ku coba berusaha menghibur dan mengajaknya tertawa, "sabar nak, jalanmu masih panjang." Modyar.~