18 January 2021

Sekolah


Menjadi pendengar memang lebih asik dari pada ikut berkomentar tetapi tidak mengerti apa permasalahannya. Apa lagi diwarung atau tempat nongkrong orang-orang yang lebih tua dari kita. Momen seperti ini yang perlu kita nikmati, disini kita bisa mendapat informasi yang tidak kita dapat dari media online apapun.

Kebanyakan sekarang orang-orang lebih aktif ikut berkomentar agar terlihat bijak dan pandai, walaupun tidak benar-benar mengerti apa yang mereka ketahui. Akan tetapi, asik tidak asiknya itu memang tergantung hati dan perasaan orang yang menjalaninya.

Bukan niatan saya untuk menguping apa yang diomongkan seseorang, tetapi apa yang diomongkan oleh orang di sebelah saya membuat diri saya tidak berkonsentrasi untuk menikmati kopi dan hembusan asap rokok yang saya hisap.

Entah apa awal mula yang mereka omongkan itu tetiba fikiran saya langsung buyar ketika ada yang bilang "kalau pengen ijazah ya sekolah, kalau pengen ilmu yang banyak ya belajar, njur belajar kui ndak harus di sekolah..." Eh lhadala, ternyata spontan dalam hati saya kok ikut membenarkannya.

Tidak sedikit banyak orang yang menyekolahkan anaknya hanya untuk mendapatkan ijazah. Kemudian untuk bekal mendaftar pekerjaan. Bukankah sekolah atau pendidikan itu bertujuan untuk mencerdaskan manusia sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Entah itu masalah pribadi atau masalah dilingkungannya. Tapi ya bukan berarti orang yang sudah sekolah itu langsung bisa menyelesaikan masalahnya secara spontan. Tidak sedikit yang gagal lalu belajar dari kegagalannya.

Parahnya lagi bila seseorang yang sudah tinggi sekolahnya dianggap mereka serba bisa. Baik dari hal apapun atau perilakunya. Tak jarang juga ada yang mengatakan "wong ya sekolah wis duwur, kelakuane kok ra mbeneh babar blas.." Malah ada juga, "Lha mosok sekolahnya sarjana ndak ngerti timbangan..." emang kebangeten sih bila ndak ngerti masalah timbangan. Tapi ya ndak semua jenis timbangan mereka bisa dong. Ah, sampean ini.. Bisa pecah ini kepala bila harus bisa dalam semua hal.

Perlu diketahui bahwasannya ada beberapa faktor yang merubah sifat atau kecerdasan seseorang, tidak dari sekolahan saja, Bisa dari keluarga, lingkungan, kemudian terahir juga dari dirinya sendiri. Jadi ya ketika menyekolahkan anaknya jangan sokor pasrah bongkok an saja. Berharap nanti anaknya serba bisa. Bantu mereka, juga bimbing mereka.

Tetiba fikiran saya dibuat pecah lagi oleh orang yang lagi nikmat ngobrol tersebut, "Jarang-jarang lo kita gumbul dan ngobrol asyik seperti ini, wong saat pengajian rutinan saja kita ndak pernah awor, lha kepriye, wong aku ndak pernah hadir sampean ya ndak pernah hadir..." Modyaaarrr~


09 November 2020

Fitnah Bekerja


Memang hidup itu tidak bisa di paus dan dipotong bagian mana yang ingin kamu hilangkan. Nyatanya terus berjalan dan mengalir sesuai apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.

Pernah ada cerita Abu Nawas yang difitnah oleh seseorang, tetapi sang Abu Nawas malah memaafkan seseorang tersebut. Abu Nawas juga memerintahkan kepada orang tersebut untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi apa-apa kepada dirinya.

Seseorang tersebut mendatangi Abu Nawas dan meminta maaf kepadanya. Abu Nawas malah memintanya lekas pergi dan menyuruhnya untuk mengnggap tidak pernah terjadi apa-apa. Akan tetapi seseorang tersebut tetap kokoh agar Abu Nawas memaafkannya. Dan akhirnya Abu Nawas memberi dua sarat. Bertanyalah seorang tersebut apa sarat pertama, "Ambil bantal, lekas koyak dan keluarkan isi yang ada di dalamnya" perintah Abu Nawas.

Setelah isi bantal sudah di koyaknya, kemudian seseorang tersebut bertanya, "Apa syarat kedua?". "Masukkan kembali isi bantal tetsebut", perintah selanjutnya dari Abu Nawas. Diambil dan dimasukkannya lagi isi bantal yang sudah dikoyaknya. Semakin lama memasukkannya ternyata semakin banyak pula isi bantal yang tidak bisa dimasukkan.

"Begitulah kerja fitnah", jelas Abu nawas, "seberapa banyak kau minta maaf dan seberapa banyak pula aku memaafkanmu, Kau tidak akan mampu mengembalikan muru'ah seseorang yang telah kau fitnah seperti sediakala".

Muru'ah adalah kepribadian atau akhlak yang dimiliki manusia untuk menjaga agar ia tidak hina. Perlahan, tapi terasa, kerja fitnah tak memerlukan pisau atau pedang yang tajam untuk menyakitinya~


29 October 2020

Bertambah Jumlah Usiamu


Hidup itu bukan seperti kamu saat mendengarkan MP3, bisa di pause atau play seperti yang kamu inginkan sesuka hati. Tetapi lebih mirip seperti layanan musik streaming yang terus berputar. Tidak bisa kamu tentukan seenaknya, baik saat ramai ataupun sekaligus sepi.

Seiring terus berjalannya hidupmu, tidak melulu soal bahagia. Bagaimanapun itu kamu harus terus berjalan bersama nasib baik atau buruk. Hadapi dengan hati yang tabah dan kokoh, yakin bahwa Tuhanmu akan membalas dan mengganti semuanya.

Dengan bertambah atau dapat dibilang berkurangnya usiamu, jadikan apa yang sudah terjadi dan kamu alami sebagai bekal hidupmu untuk terus berjalan. Dari pengalaman dapat menjadikanmu sebagai seseorang yang lebih dewasa. Karena dengan bertambahnya usia belum pasti juga bertambah kedewasaan seseorang. Pengalamanlah yang dapat membimbing seseorang untuk bertambah dewasa.

Tetaplah berjalan, nikmati dan rasakan. Terus berusaha dan berbuat baik kepada orang disekitarmu serta berdoa kepada Tuhanmu. Sebab hanya tuhanmu yang tau kapan berakhirnya usiamu.

Kamu, hari ini, dan hidupmu.