10 May 2020

Berita


Dizaman sekarang ini yang penuh permusuhan dan perfitnahan, kita harus kendalikan ucapan, perbuatan serta pikiran. Kita sedang berada dizaman yang terlalu nyaman, tapi bagai berjalan ancik-ancik ri. Waspadalah, waspadalah, waspadalah!.

Media-media selalu memberitakan yang belum tentu benar. Banyak bumbu-bumbu serta lauk-pauk yang bermacam dicampurkan ke berita agar menarik dan mendapat sanjungan pelanggan. Sehingga timbulah fitnah, permusuhan serta perpecahan dan saling menjatuhkan.

Disini internet memang bagus untuk membantu berkomunikasi dan penyebaran berita , tapi sangat buruk untuk pembangunan mental manusia. Maka dari itu kita harus mampu mendidik untuk mengendalika  diri.

Ingat, saat kita membuat berita untuk melemahkan sama dengan menendang untuk menjatuhkan, dan saat itu pula kita dalam posisi berdiri dengan satu kaki. Dengan itu malah kita memiliki banyak kesempatan untuk dijatuhkan.

Walhasil, cara jitu dan ampuh untuk menghadapi keadaan saat ini ialah dengan seperti ekspresi pada gambar!. Tenang. Santai. Kendalikan keadaan. Tinggalkan kehidupan yang ruwet dan rumit. Serta jangan lupa, ajak untuk tertawa. Jadikan semua yang membuat bingung itu menjadi kenikmatan.

Walaupun terkesan sulit karna setiap sifat seseorang berbeda, tapi saya yakin, kita pasti bisa.~


04 May 2020

Wanita Karir


Ketika nabi Muhammad ditanya, kepada siapa harus berbakti, pertama nabi menjawab, Ibu, kemudan nabi menjawab lagi Ibu, sampai ke tiga kalinya, kemudian baru seorang ayah.

Dari hadis yang sudah pernah dijelaskan, kita semua tau betapa Islam menjunjung tinggi dan sangat memuliakan kaum wanita, wabil khusus Ibu. Nabi menjelaskan bahwa derajat Ibu itu tiga tingkat di atas derajat ayah bagi anaknya.

Diluar sana tak sedikit kaum wanita yang memperjuangkan, bahkan merebutkan bak Kartini bercelana Jeans, yang artinya punya semangt tinggi, tak seperti Kartini yang ipit-ipit, susah melangkahkan kaki karena memakai kain sempit untuk menjadi seorang yang berkarir. Ingin memiliki pekerjaan yang tetap. Berusaha untuk bekerja ditempat kerja yang agraris. Berseragam.  Pergi kekantor, kemudian pulang dari kantor. Dan tak lupa gaji yang tetap.

Saya tidak tau jika yang menjadi patokan disebutnya wanita berkarir adalah kaya dan memiliki kemandirian ekonomi, seorang Ibu rumah tangga itu tergolong wanita berkarir atau hanya sekedar Ibu rumah tangga saja. Disamping hanya di rumah, kesehariannya kadang ya di sawah, ya mepe gabah, napeni hawok-hawok, ya ke pasar, ya mencuci pakaian sang bapak dan anak, ya bersih-bersih rumah, ya kadang ikut PKK, ya memasak, ya beranak.

Dan tidak luput ketinggalan ya memenuhi kebutuhan psikologis sang bapak.~


29 April 2020

Bahagia dan menderita


Kita hidup itu bergelombang, terus bergerak, terus berjalan, terus berubah-ubah. Ndak mesti. Ganti-ganti. Kadang di olok-olok, kadang pula ikut terseret meng-olok-olok. Kadang disakiti, kadang pula terbawa arus untuk membalas menyakiti, kita harus sadar itu.

Jika kata Emha, tugas kita itu mencari keburukan diri-sendiri, dan mencari kebaikan orang lain. Saya setuju. Sebab hal tersebut dapat melatih kita untuk rendah hati. Dalam ajaran jawa pula diperingatkan bahwa kita harus 'ojo rumongso biso, biso o rumongso'. Kita ndak boleh keminter, bahkan minteri lainnya.

Hidup sekarang itu ndak mudah. Kita berbuat baik sekalipun dicap tidak indah. Kita harus serba hati-hati, sebab orang sekarang ndak bisa diajak bercanda. Pokoknya serius dan serius. Padahal kalau kita terlalu serius kasihan nanti tetangga kita.

Mbok ya, kita latihan, mengubah tragedi menjadi komedi. Walaupun kita sedih juga harus bungah. Kita tahu sendirikan?!, dilingkungan kita, orang banyak utang ya tetap ngopi guya-guyu sambil rokok-an. Orang tak ber-uang juga tetep nikah, bahkan kredit motor sekalian, belum lunas cicilan istrinya sudah hamil dulun. Tak ada yang bisa menandingi orang-orang seperti dilingkungan kita itu. Pokoknya kita harus berusaha dan terus berusaha. Tuhan pasti mencukupinya.

Yakinlah, Tuhan menciptakan kesedihanmu itu juga untuk kebahagiaanmu. Siapa tahu Tuhan menaikkan pangkat derajatmu disisiNya. Bagi orang Jawapun, bahagia dan menangis itu melebur menjadi satu. Mereka bahagia tapi ya mengeluarkan air mata. Indah bukan? ~