04 May 2020

Wanita Karir


Ketika nabi Muhammad ditanya, kepada siapa harus berbakti, pertama nabi menjawab, Ibu, kemudan nabi menjawab lagi Ibu, sampai ke tiga kalinya, kemudian baru seorang ayah.

Dari hadis yang sudah pernah dijelaskan, kita semua tau betapa Islam menjunjung tinggi dan sangat memuliakan kaum wanita, wabil khusus Ibu. Nabi menjelaskan bahwa derajat Ibu itu tiga tingkat di atas derajat ayah bagi anaknya.

Diluar sana tak sedikit kaum wanita yang memperjuangkan, bahkan merebutkan bak Kartini bercelana Jeans, yang artinya punya semangt tinggi, tak seperti Kartini yang ipit-ipit, susah melangkahkan kaki karena memakai kain sempit untuk menjadi seorang yang berkarir. Ingin memiliki pekerjaan yang tetap. Berusaha untuk bekerja ditempat kerja yang agraris. Berseragam.  Pergi kekantor, kemudian pulang dari kantor. Dan tak lupa gaji yang tetap.

Saya tidak tau jika yang menjadi patokan disebutnya wanita berkarir adalah kaya dan memiliki kemandirian ekonomi, seorang Ibu rumah tangga itu tergolong wanita berkarir atau hanya sekedar Ibu rumah tangga saja. Disamping hanya di rumah, kesehariannya kadang ya di sawah, ya mepe gabah, napeni hawok-hawok, ya ke pasar, ya mencuci pakaian sang bapak dan anak, ya bersih-bersih rumah, ya kadang ikut PKK, ya memasak, ya beranak.

Dan tidak luput ketinggalan ya memenuhi kebutuhan psikologis sang bapak.~


29 April 2020

Bahagia dan menderita


Kita hidup itu bergelombang, terus bergerak, terus berjalan, terus berubah-ubah. Ndak mesti. Ganti-ganti. Kadang di olok-olok, kadang pula ikut terseret meng-olok-olok. Kadang disakiti, kadang pula terbawa arus untuk membalas menyakiti, kita harus sadar itu.

Jika kata Emha, tugas kita itu mencari keburukan diri-sendiri, dan mencari kebaikan orang lain. Saya setuju. Sebab hal tersebut dapat melatih kita untuk rendah hati. Dalam ajaran jawa pula diperingatkan bahwa kita harus 'ojo rumongso biso, biso o rumongso'. Kita ndak boleh keminter, bahkan minteri lainnya.

Hidup sekarang itu ndak mudah. Kita berbuat baik sekalipun dicap tidak indah. Kita harus serba hati-hati, sebab orang sekarang ndak bisa diajak bercanda. Pokoknya serius dan serius. Padahal kalau kita terlalu serius kasihan nanti tetangga kita.

Mbok ya, kita latihan, mengubah tragedi menjadi komedi. Walaupun kita sedih juga harus bungah. Kita tahu sendirikan?!, dilingkungan kita, orang banyak utang ya tetap ngopi guya-guyu sambil rokok-an. Orang tak ber-uang juga tetep nikah, bahkan kredit motor sekalian, belum lunas cicilan istrinya sudah hamil dulun. Tak ada yang bisa menandingi orang-orang seperti dilingkungan kita itu. Pokoknya kita harus berusaha dan terus berusaha. Tuhan pasti mencukupinya.

Yakinlah, Tuhan menciptakan kesedihanmu itu juga untuk kebahagiaanmu. Siapa tahu Tuhan menaikkan pangkat derajatmu disisiNya. Bagi orang Jawapun, bahagia dan menangis itu melebur menjadi satu. Mereka bahagia tapi ya mengeluarkan air mata. Indah bukan? ~


27 March 2020

Melupakan Kehilangan



Kelakar teman saya secara tetiba, "padahal kenalnya cuma sebentar, tapi lupanya kok lama?". Waini, dentuman apa lagi yang akan dia hujamkan.

Mengawali percakapan, seperti biasa dia ndak ndayani ketika berbicara. Diiringi dengan pola langkahnya yang seirama. Karna yang pasti saat berjalan, kaki yang satu dengan lainnya memang bergantian. Kalau secara bersamaan itu melompat: melompat juga ada yang memakai langkah.

"Aku kok ndak habis fikir to jeh, ketika berusaha melupakannya kok malah aku mengingatnya. Parahnya lagi, ketika aku kehilangan kok malah dianya terasa semakin dekat." Lhadala, lak da'ik tenan.

Semakin jauh dia melangkahkan kakinya, semakin cepat pula yang diucapkannya. Untungnya kok hanya beberapa poin saja yang dapat saya fahami. Jika banyak, pasti tak satu katapun yang saya tanggapi. Sebab ketika dia berkata suaranya pelan, tapi masih terdengar. Tersaing bunyi kenalpot motor lewat yang sekarang tambah makin sangar.

Sebelum tiba di tempat yang kami tuju, yang pasti saya perlu menyiapkan beberapa tanggapan yang sedikit terpaksa harus saya sampaikan kepadanya. Karena jika tidak, pasti dikira saya njegidhek meneng tak memperdulikannya. Ya ndak apa walau sedikit, itung-itung sebagai pencitraan. Biar dikira saya teman yang benar-benar berperan sebagai teman.

Saya sudah menyiapkan amunisi yang akan saya hunjamkan ke dia. Yakni berupa tanggapan tentang melupakan dan menghilang.
Perlu dia fahami, bahwa melupakan itu merupakan salah suatu pekerjaan mengingat. Untuk melupakan, dia harus mengingatnya. Walhasil, semakin kamu melupakan semakin pula kamu mengingatnya. Berbeda jika dia lupa. Lupa itu peristiwa yg ujug-ujug. Lupa itu terjadi dengan sendirinya. Dia pasti tak bisa melakukan pekerjaan melupakan agar dia lupa. Yang ada malah dia mengingatnya.

Segendang sepenarian dengan menghilang. Saya diajari oleh kehidupan bahwa perbuatan menghilangkan adalah suatu bentuk kehadiran yang justru lebih terasa. Kehilangan adalah wujud dari kehadiran. Semakin saya merasa kehilangan semakin terasa pula kehadirannya.

"Kok meneng bae jeh!". Makdheg. saya baru sadar ternyata sudah sampai di tempat yang kami tuju. Seketika itu saya juga sadar ternyata saya terlalu lama menyiapkan amunisi untuknya. Walhasil, ndak tersampaikanlah apa yang akan saya hunjamkan ke dia. Ndak apa, biarlah angan ini berkliaran di fikiran saya. Dia pasti juga diajarkan oleh kehidupannya.~