21 March 2020

Hanya bermain di tepi sungai



"Bila hidup yang kujalani tiap hari diibaratkan sebagai sungai, aliranku sedang tidak lancar, bahkan buntu di beberapa tempat. Airnya mengeluarkan bau busuk yang menyesakkan napas. Aku sering ingin melompat ke ruang waktu yang lain, tak peduli ke masa depan atau masa lalu, yang penting bukan saat ini. Aku sangat bosan dengan hidupku. Aku mendambakan ruang dan waktu yang lebih nyaman, tenang, dan tentram. Lepas dari kejaran beban."

Seperti yang disampaikan Rani Rachmani Moediarta lewat novelnya, bahwa sampai saat ini banyak orang yang mengibaratkan hidupnya seperti sungai, hanya mengikuti arus, bagai sepotong gabus terapung-apung tak berdaya dibawa arus sungai.

Hingga tak jarang mereka merasakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya terasa berat dan membingungkan, merasa terombang-ambing tanpa keputusan dalam drama yang dibuatnya sendiri. Pada ahirnya mereka akan mencoba melawan arus, dan mereka akan merasakan lelah yang begitu luar biasa, sebab sungai kehidupan itu bukan hanya berarus deras melainkan juga tanpa muara, tiada ujungnya sampai hidup kita selesai.

Padahal bila kehidupan ini memang seperti sungai, mestinya kita bisa bermain-main saja di tepinya, cukup di pinggir mengamati arusnya, dan bukan sengaja mencemplungkan diri ke deras arusnya. Setidaknya, cukuplah mencelupkan kaki ke dalam airnya untuk menguji suhu dan memperkirakan kedalamannya. Bisa pula melukiskan pemandangan disana, berkaca pada permukaannya, atau merenanginya. Tidak harus menjadi sepotong gabus atau kembang sungainya, Hingga ahirnya kita tak lagi merasakan beban hidup yang begitu luarbiasa.

23 December 2019

S1



"He cuk!, anakmu wes pira?". Sambil ngudhek kopi, tanya orang di sebelah saya kepada temannya. Sepertinya mereka merupakan teman karib lama yang sudah tidak saling bertemu dan bercumbu.

Suasana di warung memang tak seperti di kantor kerja yang isinya serius terus -walau kadang ada yang gak serius blas-, yang jika di terapkan di lingkungan rumah membuat kasihan tetangga kita. Walhasil saya malah tertarik menjadi pendengar budiman diantara mereka.

Merekapun mulai saling tanya jawab dan bersautan. Bagai bunyi burung prenjak sawah yang tek... tekk... Cerrrrr... Piceek... Piceeekk... "Anakku wes 2 jeh.." jawab temannya yang sama ngopinya.

"Sama cuk, anakku ya wes 2". Cletuk orang di sebelah saya ini. "Anakku itu lo, kok aneh aneh to, yang terahir ini dia sering bingung, sering lupa, kadang ya mengkhayal". Lanjut dia sambil menuangkan kopinya di lepek.

"Menghayal kepiye makaudmu jeh?". Tanya temannya penasaran.

"Lha mosok jik 2 tahun wes muni, 'pak aku wes lulus sarjana, ndek wingi tas wisuda!' ". Ya tak iyani wae musuh aku, malah tak lem "wah, hebat le. Teruss??". Asiknya mereka disambung nyruput kopi.

"Lha terus, bocahe jawap apa?". Tanya temannya tadi.

Agak terbatuk si orang dekat saya ini langsung nyeltuk, "ndilalah kok bocahe langsung ganti tanya nng aku to jeh, 'terus ngeneki aku kudu ngapain pak?' ".

Modyarrr..., seketika anteng semua. Sayapun hampir sesak napas.~

02 December 2019

Sunyi,



Sebagian dari kalian pasti menyadari bahwa semakin lama keadaan di sekeliling kalian semakin sepi. Sepi yang bukan berarti sepi, tetapi sepi karena perasaan sendiri. Semakin berkurang teman yang sejalan dengan pikiran kalian. Satu persatu memisahkan diri. Parahnya lagi kadang mereka muncul saat kita tidak memerluknnya lagi.

Sebenarnya hidup ini sederhana, kita dapat berbahagia dengan cara kita sendiri. Dengan spontan tertawa, mengingat pengalaman kita, bahkan dengan menertawakan diri kita. Atau mungkin bila semua itu tetap tak bisa membuat bahagia, bisa juga secara sedikit terpaksa sebagian dari kalian harus menikah dengan lawan jenis. Dan ini juga ndak menjamin kebahagiaan kaliaan. Tergantung bagaimana mengelola hidup kalian.

Dengan keadaan sesepi itu, suatu saat kalian pasti ingin menangis. Menangis yang keras, yang bukan berarti tetangga sebelah kalian bisa tertanggu oleh tangisan kalian. Tetapi tangisan yang sunyi, hanya hati serta tuhan yang menyadari.

Akankah dengan keadaan seperti itu membuat kalian mandeg jegreg, atau malah mengembara di dalam pikiran dan batin kalian? Padahal yang perlu kalian renungkan bukan masalah sunyi atau sepinya keadaan kalian. Tetapi kesetiaan pada tuhan kalian. Kuatkah selama hidup kalian hanya bercinta dengan-Nya dan berpuasa dari yang lain-Nya?


Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung
Dalam kepalaku
(JokPin, doa malam)