
Sebagian dari kalian pasti menyadari bahwa semakin lama keadaan di sekeliling kalian semakin sepi. Sepi yang bukan berarti sepi, tetapi sepi karena perasaan sendiri. Semakin berkurang teman yang sejalan dengan pikiran kalian. Satu persatu memisahkan diri. Parahnya lagi kadang mereka muncul saat kita tidak memerluknnya lagi.
Sebenarnya hidup ini sederhana, kita dapat berbahagia dengan cara kita sendiri. Dengan spontan tertawa, mengingat pengalaman kita, bahkan dengan menertawakan diri kita. Atau mungkin bila semua itu tetap tak bisa membuat bahagia, bisa juga secara sedikit terpaksa sebagian dari kalian harus menikah dengan lawan jenis. Dan ini juga ndak menjamin kebahagiaan kaliaan. Tergantung bagaimana mengelola hidup kalian.
Dengan keadaan sesepi itu, suatu saat kalian pasti ingin menangis. Menangis yang keras, yang bukan berarti tetangga sebelah kalian bisa tertanggu oleh tangisan kalian. Tetapi tangisan yang sunyi, hanya hati serta tuhan yang menyadari.
Akankah dengan keadaan seperti itu membuat kalian mandeg jegreg, atau malah mengembara di dalam pikiran dan batin kalian? Padahal yang perlu kalian renungkan bukan masalah sunyi atau sepinya keadaan kalian. Tetapi kesetiaan pada tuhan kalian. Kuatkah selama hidup kalian hanya bercinta dengan-Nya dan berpuasa dari yang lain-Nya?
Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung
Dalam kepalaku
(JokPin, doa malam)
Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.