02 December 2019

Sunyi,



Sebagian dari kalian pasti menyadari bahwa semakin lama keadaan di sekeliling kalian semakin sepi. Sepi yang bukan berarti sepi, tetapi sepi karena perasaan sendiri. Semakin berkurang teman yang sejalan dengan pikiran kalian. Satu persatu memisahkan diri. Parahnya lagi kadang mereka muncul saat kita tidak memerluknnya lagi.

Sebenarnya hidup ini sederhana, kita dapat berbahagia dengan cara kita sendiri. Dengan spontan tertawa, mengingat pengalaman kita, bahkan dengan menertawakan diri kita. Atau mungkin bila semua itu tetap tak bisa membuat bahagia, bisa juga secara sedikit terpaksa sebagian dari kalian harus menikah dengan lawan jenis. Dan ini juga ndak menjamin kebahagiaan kaliaan. Tergantung bagaimana mengelola hidup kalian.

Dengan keadaan sesepi itu, suatu saat kalian pasti ingin menangis. Menangis yang keras, yang bukan berarti tetangga sebelah kalian bisa tertanggu oleh tangisan kalian. Tetapi tangisan yang sunyi, hanya hati serta tuhan yang menyadari.

Akankah dengan keadaan seperti itu membuat kalian mandeg jegreg, atau malah mengembara di dalam pikiran dan batin kalian? Padahal yang perlu kalian renungkan bukan masalah sunyi atau sepinya keadaan kalian. Tetapi kesetiaan pada tuhan kalian. Kuatkah selama hidup kalian hanya bercinta dengan-Nya dan berpuasa dari yang lain-Nya?


Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung
Dalam kepalaku
(JokPin, doa malam)

03 October 2019

Malam tenang

Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.

Ditambah teman saya yang juga belum tidur membuat saya semakin mengurungkan niat untuk tidur.Seiring bergantinya hari saya lihat teman saya yang santai duduk di teras kamar.

Kulihat teman saya terdiam. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang melamun. Merenung. Berfikir. Entah apa yang dia fikirkan, kelihatan dari posisi duduk dan pandangannya.

Dia memandang kedepan, tapi bukan kedepan. Kedepan yang lebih jauh kedepan lagi, atau malah melihat kebelakang. Belakang yang sudah pernah terjadi dan dia rasakan. Sedikitpun tak berani saya untuk menegurnya.Ekspresi gelisahpun mulai dia tampilkan. Ditambah lagi saya yang merasa sendirian kuberanikan diri untuk menanyainya, "kowe nyapo gak turu-turu". Dia pun diam, hanya membalas dengan senyuman.

Kutanya lagi padanya, "urung ngantuk kowe?". Akhirnyapun dia membalas, "kadang saya berfikir, saya itu suka dengan malam. Suka dengan situasinya. Hening, sepi, dan sunyi. Di sepinya malam ini saya bisa berfikir untuk menilai hidup saya sendiri," jawab dia dengan pandangannya yang terus menghadap ke depan.

Mulailah dia banyak bicara, dan parahnya lagi situasinya bagai seorang murid dan guru privatnya, dan yang pasti saya berposisi sebagai muridnya. "saya suka dengan malam itu sebab di malam hari sepi, orang-orang sudah pada istirahat, dan lebih pentingnya dimalam hari tak banyak orang munafik. Polusi-polusi kemunafikan sudah tidak memenuhi lingkungan saya. Di malam hari tak banyak orang-orang yang berbohong berkeliaran. Mereka sudah lelah, dan beristirahat dari apa yang mereka kerjakan di siang hari."

Saat itu pula spontan saya menjadi pendengar yang budiman tanpa ikut berkomentar.

Ambyar. Walhasil saya ikut merenung bersamanya~

04 August 2019

Tertawa



Cara mudah dan sederhana untuk bahagia adalah tertawa. Kita bisa menertawakan apa saja yang berada di sekeliling kita. Tapi ingat, tertawa kita akan lebih mudah jika kita sudah bisa menertawakan diri kita. Sebab puncak bahagia kita ada di dalam diri kita.

Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana didalam diri kita yang bisa dibuat untuk bahan tertawa. Contoh salah satunya adalah ketika memikirkan kenapa rambut ketiak kita tak sepanjang rambut yang ada di kepala kita. Andai saja panjangnya sama seperti rambut di kepala kita, apa tidak bingung harus di sembunyikan dimana, atau perlukah kita mengklabang dan mengkuncritnya, bahkan menyemirnya.

Dan saya sadar, ternyata tidak seterusnya ketika kita bahagia akan tertawa. Ketika berada diposisi puncak yang paling bahagia, kita akan menangis. Mengeluarkan air mata. Bukan sedih. Tapi bahagia.

Mengingat bahwa setiap sesuatu itu perlu adanya evaluasi atau koreksi. Salah satunya yaitu akreditasi. Saya yakin, setiap orang yang bekerja di kantoran pasti mereka merasakan ngilu di kepala yang berkepanjangan, atau bahkan merasa akan mimisan jika tempat atau lembaga yang mereka kelola akan di akreditasi atau di nilai. Akreditasi merupakan salah satu program pemerintah untuk menilai atau mengevaluasi tempat atau lembaga yang di kelola. Apakah tempat tersebut benar-benar layak atau tidak.

Pada situasi saat itu semua pengelola atau tenaga akan dibuat repot dan gaduh, segaduh pasar tumpah. Mereka akan menyiapkan berkas-berkas atau hasil kinerjanya. Mulai dari laporan program yang terlaksana, sampai tetek mbengeknya. Pikiran mulai tegang, setegang urat yang ada di leher membesar ketika kita berteriak atau bernyanyi lantang dan bergembira. Semua akan berfikir bahwa asesor atau tim penilai akan memarahi dan menilai jelek lembaganya.

Ternyata, apa yang difikirkan tidak sebanding dari persiapannya. Serepot dan sebingung apapun orang-orang di sekitar kita merupakan orang-orang yang murah dan mudah tertawa. Bisa merubah situasi menegangkan menjadi komedian. Merubah situasi garing menjadi riang. Membalut keseriusan dengan candaan.

Di gambar tersebut mereka bukan menertawakan, tapi tertawa. Ingat, Menertawakan dan tertawa itu berbeda.~