03 October 2019

Malam tenang

Lampu teras kamar kosan yang berderet masih terus insomnia. Tak pernah lelap dan memejamkan cahayanya membuat saya sulit untuk memejamkan mata untuk tidur.

Ditambah teman saya yang juga belum tidur membuat saya semakin mengurungkan niat untuk tidur.Seiring bergantinya hari saya lihat teman saya yang santai duduk di teras kamar.

Kulihat teman saya terdiam. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang melamun. Merenung. Berfikir. Entah apa yang dia fikirkan, kelihatan dari posisi duduk dan pandangannya.

Dia memandang kedepan, tapi bukan kedepan. Kedepan yang lebih jauh kedepan lagi, atau malah melihat kebelakang. Belakang yang sudah pernah terjadi dan dia rasakan. Sedikitpun tak berani saya untuk menegurnya.Ekspresi gelisahpun mulai dia tampilkan. Ditambah lagi saya yang merasa sendirian kuberanikan diri untuk menanyainya, "kowe nyapo gak turu-turu". Dia pun diam, hanya membalas dengan senyuman.

Kutanya lagi padanya, "urung ngantuk kowe?". Akhirnyapun dia membalas, "kadang saya berfikir, saya itu suka dengan malam. Suka dengan situasinya. Hening, sepi, dan sunyi. Di sepinya malam ini saya bisa berfikir untuk menilai hidup saya sendiri," jawab dia dengan pandangannya yang terus menghadap ke depan.

Mulailah dia banyak bicara, dan parahnya lagi situasinya bagai seorang murid dan guru privatnya, dan yang pasti saya berposisi sebagai muridnya. "saya suka dengan malam itu sebab di malam hari sepi, orang-orang sudah pada istirahat, dan lebih pentingnya dimalam hari tak banyak orang munafik. Polusi-polusi kemunafikan sudah tidak memenuhi lingkungan saya. Di malam hari tak banyak orang-orang yang berbohong berkeliaran. Mereka sudah lelah, dan beristirahat dari apa yang mereka kerjakan di siang hari."

Saat itu pula spontan saya menjadi pendengar yang budiman tanpa ikut berkomentar.

Ambyar. Walhasil saya ikut merenung bersamanya~

04 August 2019

Tertawa



Cara mudah dan sederhana untuk bahagia adalah tertawa. Kita bisa menertawakan apa saja yang berada di sekeliling kita. Tapi ingat, tertawa kita akan lebih mudah jika kita sudah bisa menertawakan diri kita. Sebab puncak bahagia kita ada di dalam diri kita.

Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana didalam diri kita yang bisa dibuat untuk bahan tertawa. Contoh salah satunya adalah ketika memikirkan kenapa rambut ketiak kita tak sepanjang rambut yang ada di kepala kita. Andai saja panjangnya sama seperti rambut di kepala kita, apa tidak bingung harus di sembunyikan dimana, atau perlukah kita mengklabang dan mengkuncritnya, bahkan menyemirnya.

Dan saya sadar, ternyata tidak seterusnya ketika kita bahagia akan tertawa. Ketika berada diposisi puncak yang paling bahagia, kita akan menangis. Mengeluarkan air mata. Bukan sedih. Tapi bahagia.

Mengingat bahwa setiap sesuatu itu perlu adanya evaluasi atau koreksi. Salah satunya yaitu akreditasi. Saya yakin, setiap orang yang bekerja di kantoran pasti mereka merasakan ngilu di kepala yang berkepanjangan, atau bahkan merasa akan mimisan jika tempat atau lembaga yang mereka kelola akan di akreditasi atau di nilai. Akreditasi merupakan salah satu program pemerintah untuk menilai atau mengevaluasi tempat atau lembaga yang di kelola. Apakah tempat tersebut benar-benar layak atau tidak.

Pada situasi saat itu semua pengelola atau tenaga akan dibuat repot dan gaduh, segaduh pasar tumpah. Mereka akan menyiapkan berkas-berkas atau hasil kinerjanya. Mulai dari laporan program yang terlaksana, sampai tetek mbengeknya. Pikiran mulai tegang, setegang urat yang ada di leher membesar ketika kita berteriak atau bernyanyi lantang dan bergembira. Semua akan berfikir bahwa asesor atau tim penilai akan memarahi dan menilai jelek lembaganya.

Ternyata, apa yang difikirkan tidak sebanding dari persiapannya. Serepot dan sebingung apapun orang-orang di sekitar kita merupakan orang-orang yang murah dan mudah tertawa. Bisa merubah situasi menegangkan menjadi komedian. Merubah situasi garing menjadi riang. Membalut keseriusan dengan candaan.

Di gambar tersebut mereka bukan menertawakan, tapi tertawa. Ingat, Menertawakan dan tertawa itu berbeda.~

14 June 2019

Pengorbanan

Awal mula saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa untuk mencapai sesuatu yang indah itu seutuhnya butuh pengorbanan. Pendapat itu dapat menguatkan hati, perasaan dan tubuh saya untuk menggebu-gebu mencapai apa yang saya inginkan.

Saya juga merasa bahawa pengorbanan merupakan pekerjaan yang sakit dan melelahkan, serta memerlukan hal yang kita korbankan. Tapi, akan membuat kita mengerti apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Jika kalian sudah mengerti bahwa perjalan akan menyakitkan, pasti akan menyediakan obat-obatan, kadas, kurap, jamur, gatal, monggo dipun bukti-aken nek mboten wantun mangke arto wangsol sangking sepuloh ewu dados rongpuloh ewu..! ~

Yang pasti kalian akan menyiapapkan hal-hal yang dapat menghilangka rasa sakit itu. Semisal kalian mengerti bahwa nanti akan lapar, sesuatu yang kalian persiapkan adalah makanan, lain dan seterusnya.

Tapi untungnya kita memiliki rasa kebahagiaan yang spontan. Kita sudah terbiasa menghadapi kesengsaraan dengan bersenang-senang. Sebagian dari kita jika memiliki beban pikiran pasti auto udud, guya-guyu dan cekaka-an.

Setelah saya memulai berjalan dan merasakan, ternyata benar, pengorbanan itu butuh paksaan, dan paksaan itu menyakitkan. Untuk menghilangkan sara sakit dari paksaan pasti juga butuh pengorbanan. Pengorbanan membutuhka lagi paksaan, paksaan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan lagi paksaan seterusnya dan seterusnya. Sampai terbiasa dan merasakan cinta dari pengorbanan.

Hal ini membuat saya sadar, bahwa untuk mencapai hal yang indah dan menggapai apa yang dicita-citakan hanya sedikit butuh pengorbanan, selebihnya cinta dan kasih sayang~