04 August 2019

Tertawa



Cara mudah dan sederhana untuk bahagia adalah tertawa. Kita bisa menertawakan apa saja yang berada di sekeliling kita. Tapi ingat, tertawa kita akan lebih mudah jika kita sudah bisa menertawakan diri kita. Sebab puncak bahagia kita ada di dalam diri kita.

Banyak sekali hal-hal kecil dan sederhana didalam diri kita yang bisa dibuat untuk bahan tertawa. Contoh salah satunya adalah ketika memikirkan kenapa rambut ketiak kita tak sepanjang rambut yang ada di kepala kita. Andai saja panjangnya sama seperti rambut di kepala kita, apa tidak bingung harus di sembunyikan dimana, atau perlukah kita mengklabang dan mengkuncritnya, bahkan menyemirnya.

Dan saya sadar, ternyata tidak seterusnya ketika kita bahagia akan tertawa. Ketika berada diposisi puncak yang paling bahagia, kita akan menangis. Mengeluarkan air mata. Bukan sedih. Tapi bahagia.

Mengingat bahwa setiap sesuatu itu perlu adanya evaluasi atau koreksi. Salah satunya yaitu akreditasi. Saya yakin, setiap orang yang bekerja di kantoran pasti mereka merasakan ngilu di kepala yang berkepanjangan, atau bahkan merasa akan mimisan jika tempat atau lembaga yang mereka kelola akan di akreditasi atau di nilai. Akreditasi merupakan salah satu program pemerintah untuk menilai atau mengevaluasi tempat atau lembaga yang di kelola. Apakah tempat tersebut benar-benar layak atau tidak.

Pada situasi saat itu semua pengelola atau tenaga akan dibuat repot dan gaduh, segaduh pasar tumpah. Mereka akan menyiapkan berkas-berkas atau hasil kinerjanya. Mulai dari laporan program yang terlaksana, sampai tetek mbengeknya. Pikiran mulai tegang, setegang urat yang ada di leher membesar ketika kita berteriak atau bernyanyi lantang dan bergembira. Semua akan berfikir bahwa asesor atau tim penilai akan memarahi dan menilai jelek lembaganya.

Ternyata, apa yang difikirkan tidak sebanding dari persiapannya. Serepot dan sebingung apapun orang-orang di sekitar kita merupakan orang-orang yang murah dan mudah tertawa. Bisa merubah situasi menegangkan menjadi komedian. Merubah situasi garing menjadi riang. Membalut keseriusan dengan candaan.

Di gambar tersebut mereka bukan menertawakan, tapi tertawa. Ingat, Menertawakan dan tertawa itu berbeda.~

14 June 2019

Pengorbanan

Awal mula saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa untuk mencapai sesuatu yang indah itu seutuhnya butuh pengorbanan. Pendapat itu dapat menguatkan hati, perasaan dan tubuh saya untuk menggebu-gebu mencapai apa yang saya inginkan.

Saya juga merasa bahawa pengorbanan merupakan pekerjaan yang sakit dan melelahkan, serta memerlukan hal yang kita korbankan. Tapi, akan membuat kita mengerti apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Jika kalian sudah mengerti bahwa perjalan akan menyakitkan, pasti akan menyediakan obat-obatan, kadas, kurap, jamur, gatal, monggo dipun bukti-aken nek mboten wantun mangke arto wangsol sangking sepuloh ewu dados rongpuloh ewu..! ~

Yang pasti kalian akan menyiapapkan hal-hal yang dapat menghilangka rasa sakit itu. Semisal kalian mengerti bahwa nanti akan lapar, sesuatu yang kalian persiapkan adalah makanan, lain dan seterusnya.

Tapi untungnya kita memiliki rasa kebahagiaan yang spontan. Kita sudah terbiasa menghadapi kesengsaraan dengan bersenang-senang. Sebagian dari kita jika memiliki beban pikiran pasti auto udud, guya-guyu dan cekaka-an.

Setelah saya memulai berjalan dan merasakan, ternyata benar, pengorbanan itu butuh paksaan, dan paksaan itu menyakitkan. Untuk menghilangkan sara sakit dari paksaan pasti juga butuh pengorbanan. Pengorbanan membutuhka lagi paksaan, paksaan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan lagi paksaan seterusnya dan seterusnya. Sampai terbiasa dan merasakan cinta dari pengorbanan.

Hal ini membuat saya sadar, bahwa untuk mencapai hal yang indah dan menggapai apa yang dicita-citakan hanya sedikit butuh pengorbanan, selebihnya cinta dan kasih sayang~

17 March 2019

Piye Penak Pora



Nyimak berita yang termuat diliputan6 mengenai DPW terciduk di sidoarjo tersebut mengingatkan saya dengan ucapan cak Lontong yang tampil dalam standup komedi mengenai korupsi, dan cak Lontongpun berperan sebagai koruptor. Cak Lontong memberi salam kepenonton dan salamnya dijawab olehnya sendiri. Temannyapun bertanya heran, "Loh cak..?", "Saya koruptor, koruptor itu serakah. Mengucap salam mendapat pahala, menjawabpun juga mendapat pahala. Dan saya tidak hanya serakah dengan uang saja, salampun saja juga serakah".

Alakulihal saya menyimpulkan bahwa memang orang yang seperti itu serakah. Apapun miliknya harus banyak. Tidak hanya uang, agamapun sekarang bisa dijadikan alat untuk berkorupsi.

Emha juga pernah berpendapat, bahwa pancasila itu suatu dinamika manajemen, dan sila kelima adalah gold nya, yaitu keadilan sosial. Tapi sekarang orang-orang ndak mau sila kelima. Kebanyakan orang-orang ingin kemakmuran dewe-dewe bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, banyak orang yang mementingkan diri-sendirinya, mikir karepe dewe, ndak untuk orang lain.

Kitapun harus belajar kepada semut, yang derajat kemakhlukannya lebih rendah dari kita. Semut jika sudah membawa ikan gerih tidak akan tergoda oleh gula yang kita sebarkan di sebelahnya.

Dan sekarang RomLi sedang menjalankan kebaikan. Yaitu menjalani proses pemeriksaan dan hukuman dari kesalahan yang dibuatnya~